MALUKU UTARA — Kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia kembali menjadi motor penggerak kenaikan harga minyak. Pemicunya adalah ancaman balasan Iran jika Amerika Serikat (AS) kembali menyerang aset-asetnya, ditambah peringatan Teheran bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas milik AS, rentan menjadi sasaran.
Belum ada terobosan diplomatik yang mampu meredakan ketegangan setelah aksi saling serang antara kedua negara sepanjang akhir pekan lalu. Situasi ini memaksa pelaku pasar terus memasukkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak, khususnya untuk pengiriman yang melintasi Selat Hormuz.
Pada Sabtu (5/9), pasukan AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu kapal yang berada di dekat Pulau Kharg—pusat utama ekspor minyak Iran. Serangan itu merupakan respons atas aksi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menyerang kapal perang AS di kawasan tersebut.
Serangan balasan yang berpotensi berlarut-larut dinilai analis akan menahan pasokan minyak dari kawasan Teluk dalam jangka panjang. Daniel Hynes, analis ANZ, menilai eskalasi terbaru meningkatkan kemungkinan kebuntuan yang berlangsung lebih lama.
"Kami tidak memperkirakan arus pasokan kembali sepenuhnya ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027," kata Hynes dalam catatannya, seperti dikutip Reuters.
Risiko pasokan yang ketat lebih lama turut mendorong lembaga keuangan global me