TIDORE — Achmad Mahifa mengembuskan napas terakhir di RSD Tidore pada Kamis malam, 1 Oktober 2026, sekitar pukul 22.30 WIT. Kabar duka itu menyebar cepat di kalangan warga dan jajaran pemerintahan Kota Tidore Kepulauan. Almarhum meninggalkan jejak sepuluh tahun kepemimpinan yang dikenang sebagai periode pembangunan relatif tenang.
Mahifa lahir dan besar di Gurabunga dari keluarga sederhana. Latar belakang itu tidak menghalanginya meniti karier panjang di dunia birokrasi dan politik lokal Maluku Utara.
Ia dipercaya memimpin Tidore Kepulauan selama dua periode berturut-turut, 2005 hingga 2015. Sepuluh tahun menjabat, namanya lekat dengan gaya kepemimpinan yang tidak gemar mencari sorotan.
Seorang tokoh masyarakat setempat menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Menurut dia, keteladanan Mahifa terletak pada cara ia memimpin dan hidup sehari-hari.
"Pengabdian dan kesederhanaan beliau selama memimpin dua periode menjadi teladan yang sangat berarti bagi seluruh masyarakat Tidore," ujar tokoh tersebut.
Setelah purnatugas pada November 2015, Mahifa tidak meninggalkan Tidore. Ia memilih tetap menetap di tanah kelahirannya dan aktif sebagai sesepuh yang dihormati di Maluku Utara.
Pilihan itu membuatnya tetap dekat dengan warga setelah lengser dari kursi wali kota. Figur sesepuh seperti dirinya kerap jadi rujukan ketika persoalan daerah mencuat.
Jenazah almarhum saat ini disemayamkan di rumah duka. Rencananya ia dimakamkan di Tidore, kota yang ia pimpin selama satu dekade.
Seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Mahifa. Ucapan duka mengalir dari berbagai kalangan di Maluku Utara.