TERNATE — Kepala Museum Alfred Russel Wallace dan Museum Rempah Kota Ternate, Rinto Taib, menyebut konsep Museum Cafe sebagai terobosan sederhana untuk memulai keberlanjutan pasca-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung Agustus lalu. Gagasan itu berorientasi pada penguatan city branding Ternate sebagai Kota Rempah.
Perintisan konsep tersebut berlangsung sejak Juni 2026 melalui kolaborasi bersama pelaku UMKM berkonsep street cafe. Kegiatan ini menempati area pelataran Museum Rempah Kota Ternate dan berkembang ke sisi belakang Museum Alfred Russel Wallace di kawasan Cagar Budaya Benteng Oranje.
Pemanfaatan kawasan Benteng Oranje sebagai zona pengembangan UMKM bukan hal baru. Rinto mencatat dukungan itu berlangsung sejak masa pemerintahan Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman, ditandai gelaran Expo Produk Ekonomi Kreatif Lokal oleh Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Maluku Utara.
Penandatanganan simbolis oleh Wali Kota untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai Pasar Seni, Karya, dan Budaya dilakukan pada 28 Oktober 2018. Pada masa kepemimpinan Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, pengelolaan kawasan dipertegas melalui Keputusan Wali Kota Ternate Nomor 03/II,21/KT/2021 tentang Pemanfaatan Kawasan Benteng Oranje untuk Komunitas sebagai Pusat Kreativitas.
Regulasi itu merupakan implementasi program prioritas Ternate Andalan dalam Visi dan Misi Kota Ternate Tahun 2021–2024. Arahnya menjadikan Ternate sebagai kota mandiri dan berkeadilan melalui pengembangan iklim usaha yang kondusif serta peningkatan daya saing industri kreatif, UMKM, dan IKM.
Meski mengusung brand Museum Cafe, tempat ini tidak mengandalkan konsep kafe pada umumnya. Rinto menyebut pengelolaannya berbasis kolaborasi dan hubungan kemitraan lewat program bersama.
Tujuannya menghidupkan kawasan bersejarah dan warisan budaya agar lebih dekat kepada pengunjung yang umumnya didominasi generasi muda milenial. Kawasan ini juga menjadi wujud penguatan city branding Ternate sebagai Kota Rempah.
Secara visual, keberadaan kafe tampak sama dengan street cafe di area terbuka lain di Kota Ternate. Yang membedakan adalah keberadaan museum dengan program edukatif yang melekat pada kafe di kawasan cagar budaya Benteng Oranje.
Tanpa dekorasi khusus desainer, kafe ini mengandalkan fasilitas tenan serta kursi dan meja yang memadai. Meski tanpa lapisan ubin, pintu kaca, ataupun pendingin ruangan, panorama jejak bangunan kolonial disebut menampilkan daya tarik tersendiri bagi berbagai kalangan—mulai dari akademisi, politisi, aktivis, hingga jurnalis.
Rinto mengakui konsep Museum Cafe belum mendapatkan hasil yang diharapkan dari sisi peningkatan jumlah kunjungan ke museum. Museum sempat dibuka secara eksperimental pada beberapa malam, tetapi respons pengunjung belum sesuai target.
Keterbatasan koleksi dan sumber daya menjadi latar belakang utamanya. Pengelola mencatat perlunya peningkatan kualitas museum dari segi informasi dan edukasi berbasis koleksi maupun variabel teknis lain sebagai magnet pengunjung.
Penguatan sumber daya dan layanan juga mencakup ketersediaan tenaga kompetensi teknis museum yang memadai. Rinto menyebut tenaga konservasi koleksi (konservator), edukator, dan sejenisnya masih minim.
Antusiasme pengunjung terlihat pada gelaran dialog yang diinisiasi Forum Dosen Maluku Utara, Museum Alfred Russel Wallace, dan Street Caffe Ternate. Acara yang diliput Gamalama TV pada Sabtu (10/10/2026) malam itu berlangsung hingga larut malam.
Pengunjung menyaksikan pemaparan para akademisi yang membedah berbagai isu aktual, mulai dari isu kebudayaan dan kemasyarakatan. Gelaran itu menjadi salah satu contoh bagaimana kawasan cagar budaya difungsikan sebagai ruang publik yang hidup.
Bagi pengelola, keberlanjutan pasca-Rakernas JKPI ke-XII menuntut langkah konkret dari semua pihak. Museum Cafe diposisikan sebagai titik awal, bukan tujuan akhir, untuk terus menjawab tantangan masa depan kawasan pusaka di Ternate.