MALUKU UTARA — Waldorf Astoria New York mengubah Grand Ballroom seluas hampir 10.000 kaki persegi menjadi lapangan tenis penuh pada Agustus lalu, menghadirkan petenis Ben Shelton hingga Leylah Fernandez di tengah lampu gantung kristal. Fenomena ini menandai pergeseran pasar akomodasi global: akses VIP ke ajang olahraga kini menjadi amenitas paling dicari, seiring nilai pasar wisata olahraga yang ditaksir mencapai USD 1,16 triliun pada 2025. Bagi traveler Indonesia yang mulai menjadikan turnamen sebagai alasan utama liburan, tren ini mengubah cara memilih hotel.
Jamie Kerr, vice president of luxury marketing strategy di Hilton, menyebut suasana Grand Ballroom saat itu terasa sedikit berlebihan, sangat glamor, dan sepenuhnya tepat. Menurutnya, ruangan tersebut memang sejak lama menjadi tempat New York berkumpul untuk melihat dan dilihat.
Acara di Waldorf Astoria itu bertepatan dengan gelaran US Open. Selain pertandingan eksibisi, tamu mengikuti sesi bertemu pemain dan kelas latihan sebelum kembali ke kamar di lantai atas. Formula serupa kini direplikasi sejumlah properti mewah di berbagai negara.
Pasar wisata olahraga pada 2025 ditaksir bernilai USD 1,16 triliun, atau sekitar 10 persen dari total ekonomi pariwisata dunia. Angka itu mencerminkan pergeseran preferensi: traveler tidak lagi puas sekadar menonton pertandingan.
Mereka ingin turun ke lapangan bersama juara Grand Slam, bersorak dari tribun VIP Formula 1, dan pulang dengan cerita yang tidak bisa dibeli lewat tiket biasa. Hotel berbintang lima bergerak mengisi celah itu dengan paket pengalaman eksklusif.
Hilton memperluas program tenisnya lewat pendirian Waldorf Astoria Racquet Club di Waldorf Astoria London Admiralty Arch. Properti itu dijadwalkan buka Maret 2027.
Kerr menggambarkan konsepnya mengacu pada gaya klasik Wimbledon: rumput hijau, pakaian tenis putih, stroberi dengan krim, dan minuman panjang di tangan. Turnamen tersebut setiap tahun menarik sekitar setengah juta penonton.
Ambisi Hilton lebih luas dari sekadar menyediakan lapangan. Mereka ingin tamu merasa menjadi bagian dari permainan, entah saat memegang raket, menonton dari sisi lapangan, atau sekadar menyerap energinya.
Paket semacam ini umumnya tidak dipublikasikan di mesin pemesanan biasa. Traveler perlu menghubungi langsung hotel atau memantau laman penawaran resmi masing-masing properti, karena ketersediaan tiket event dan jadwal atlet sangat terbatas.
Untuk laga besar seperti Piala Dunia atau Grand Slam, pemesanan biasanya dibuka jauh hari dan terikat pada tipe kamar tertentu. Biaya tambahan di luar tarif menginap bervariasi tiap properti dan tidak dirinci dalam pengumuman resmi.
Perhatikan juga musim. Agustus di New York bertepatan dengan US Open, sementara Aspen dan Oahu punya jendela cuaca berbeda untuk aktivitas luar ruang. Konfirmasi jadwal program langsung ke hotel sebelum menyusun itinerari.
Durasi ideal untuk mencoba pengalaman ini adalah tiga sampai empat malam, cukup untuk mengikuti satu sesi olahraga, satu pertandingan, dan tetap punya waktu menikmati fasilitas hotel tanpa terburu-buru.