TERNATE — Penyelenggaraan DTPHN 2026 di Ternate dihadiri delegasi dari Belanda, Jepang, Taiwan, Malaysia, Thailand, serta perwakilan dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Sebanyak 25 partisipan terlibat, di antaranya Matsura Historical Museum, Tainan Cultural Association, Tamsui Historical Museum, Baand Holandia Ayuthaya, Melaka World Heritage, Pusat Dokumentasi Arsitektur, ICOMOS Indonesia, Ternate Heritage Society, dan Pemkot Ternate.
Para peserta berdiskusi langsung dengan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, di area Benteng Oranje. Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya transfer pengetahuan sejarah antargenerasi.
Tamsui Dipilih karena Jejak Sejarah Abad ke-17
Penunjukan Tamsui sebagai tuan rumah DTPHN 2027 dinilai bertumpu pada keterikatan sejarah dan geopolitik militer dengan Ternate pada abad ke-17. Hubungan kedua wilayah terekam sejak era perdagangan rempah-rempah Batavia, perlawanan terhadap kolonialisme Spanyol, hingga mundurnya garnisun Spanyol dari Ternate ke Manila akibat invasi Koxinga di Taiwan pada 1662.
Peristiwa itu memicu migrasi kaum Mardika dari Ternate ke Filipina. Kongres ke-12 DTPHN di Tamsui disebut menjadi momentum menggali kembali narasi sejarah yang sempat minim literatur.
"Tamsui pernah diduduki Spanyol pada 1628 dan Belanda pada 1642. Kolonisasi maritim membentuk sejarah awal kami. Minimnya catatan sejarah masa Spanyol dan Belanda membuat dialog di DTPHN ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman mengenai Era Penjelajahan," ujar Peneliti Museum Sejarah Tamsui, Yu Cheng Guang.
Yu menambahkan pihaknya tengah menegosiasikan alokasi anggaran tambahan dengan Kementerian Kebudayaan Taiwan. Anggaran dasar untuk agenda tersebut disebut telah siap dan masuk dalam rencana prioritas tahun depan.
Sinergi Lintas Kota di Taiwan Disiapkan
Delegasi Tainan Cultural Association, Liao Shufang (Emma), menyambut baik penunjukan Tamsui. Menurutnya, sinergi lintas kota di Taiwan perlu dibangun untuk mematangkan skema kerja sama.
"Hal ini perlu dibahas secara serius. Tim Tamsui berencana mengunjungi asosiasi budaya Tainan untuk mematangkan skema kerja sama," kata Emma.
Delegasi Tainan lainnya, Chou Chih-Ju (Lily Chou), menekankan komitmen pelestarian berkelanjutan melalui forum ini. Ia menyebut tujuan utama kegiatan adalah saling berbagi, meneruskan, dan menerjemahkan warisan budaya leluhur.
"Tujuan utama kegiatan ini adalah saling berbagi, meneruskan, dan menerjemahkan warisan budaya leluhur, serta mengeksplorasi cara yang lebih efektif untuk mewariskannya dari generasi ke generasi," tutur Lily.
Menyambung Simpul Jalur Rempah VOC
Ketua Ternate Heritage Society, Didith Prahara, menjelaskan DTPHN digagas untuk mengoneksikan kembali negara-negara yang memiliki jejak sejarah perdagangan serupa. Forum ini disebut sebagai langkah konkret menyambung simpul antarnegara di jalur rempah VOC.
"Ini langkah konkret menyambung simpul antarnegara di jalur rempah VOC, sekaligus menjaga nilai-nilai sejarah agar tidak memudar dari generasi ke generasi," ungkap Didith.
Pelaksanaan DTPHN 2026 di Ternate berjalan beriringan dengan agenda JKPI. Kolaborasi lintas sektor melibatkan Pemerintah Kota Ternate, dinas terkait, komunitas lokal, hingga relawan JKPI.
"Harapan saya, simpul ini tidak pernah terputus. Silaturahmi antarnegara tetap terjalin intens dalam menjaga warisan sejarah, baik secara lisan, tulisan, visual, maupun arsip-arsip inovatif ke depan," pungkas Didith.