SOFIFI — Provinsi Maluku Utara menapaki usia ke-27 dengan capaian ekonomi yang membuat Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rekor nasional. Industri ekstraktif, terutama tambang dan hilirisasi nikel, menjadi mesin utama pertumbuhan. Namun di desa-desa sekitar smelter, kemakmuran yang dijanjikan masih jauh dari dapur warga.
Pemerintahan yang dipimpin Gubernur Sherly Tjoanda mengangkat tema "Tumbuhnya Harus Terasa" pada peringatan HUT ke-27 provinsi. Tajuk itu dibaca sebagai pengakuan bahwa pertumbuhan angka tidak otomatis menjalar menjadi kesejahteraan yang dirasakan rakyat di garis depan industri.
Pertumbuhan 19,64 Persen, Tapi Kemakmuran Tak Menjalar ke Kampung Tambang
Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi 19,64 persen pada triwulan I 2026 dan 15,35 persen pada triwulan II. Angka itu jauh di atas rata-rata nasional dan menjadikan provinsi ini salah satu wilayah dengan laju ekonomi tercepat di Indonesia.
Nilai produksi berlipat, investasi mengalir deras, dan pabrik-pabrik pengolahan nikel terus dibangun. Tetapi di desa-desa sekitar tambang, tanah petani, sungai, pesisir, dan sumber air bersih justru kian terdesak oleh ekspansi industri.
Maluku Utara berlari kencang dalam pacuan industrialisasi. Kesejahteraan rakyat belum tentu bergerak searah dengan laju itu.
Tiga Wajah Hilirisasi: Harita Nickel, Antam, dan IWIP
Sedikitnya tiga kawasan industri menjadi panggung utama hilirisasi nikel di Maluku Utara. Harita Nickel beroperasi di Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Antam menguasai pesisir Teluk Buli, Halmahera Timur. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membentang di pesisir Teluk Weda, Halmahera Tengah.
Ketiganya menjadi tempat kemilau investasi dipertontonkan dan keuntungan dikejar. Warga di sekitarnya menanggung daya rusak yang menyertai ekspansi tersebut.
Bagi warga, tanah adalah tempat pohon tumbuh, pangan dihasilkan, dan kehidupan diwariskan antargenerasi. Bagi negara dan korporasi, tanah yang sama kerap direduksi menjadi gudang mineral yang siap dikeruk.
Presiden Resmikan Ekspansi IWIP Empat Hari Sebelum HUT Provinsi
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, empat hari menjelang peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara, Presiden Prabowo Subianto bertandang ke IWIP. Ia meresmikan penambahan pabrik dan ekspor di kawasan industri tersebut.
Dalam seremoni itu, Presiden menegaskan komitmen untuk melindungi investasi dan melanjutkan program hilirisasi. Panggung tersebut mempertemukan pejabat negara, kepala daerah, elite politik, dan pemilik modal dalam satu acara.
Hadir pula Xiang Guangda dari Tsingshan Holding Group dan Chen Xuehua dari Huayou Holding Group, dua aktor bisnis asal Tiongkok yang berada di balik ekspansi industri IWIP.
Pemandangan itu memperlihatkan betapa mesranya hubungan negara dan korporasi dalam memperluas industri ekstraktif. Negara menyediakan kebijakan, infrastruktur, dan kemudahan investasi. Korporasi meningkatkan produksi demi memenuhi permintaan pasar global.
Air Bersih Sulit, Atap Rumah Korosi, Sungai Wosia Terhimpit
Di desa-desa garis depan ekspansi IWIP, seperti Lelilef Sawai dan Lelilef Woebulen di Kecamatan Weda Tengah, persoalan itu bukan sekadar teori pembangunan. Air bersih kian sulit diperoleh setelah sumber-sumber air yang digunakan warga mengalami perubahan kualitas.
Warga juga dihantui kekhawatiran terhadap kondisi atap rumah yang disebut mengalami korosi. Kebun-kebun yang menjadi sumber penghidupan menyusut tajam bahkan hilang. Sungai-sungai kehilangan fungsi, di antaranya Sungai Wosia/Woesna yang turut diprivatisasi.
Pesisir dan laut kian terhimpit oleh ekspansi industri. Situasi serupa menimpa warga di Kawasi maupun kampung-kampung lain yang diduduki tambang nikel.
Logika akumulasi modal bekerja seperti timbangan yang kehilangan keseimbangan. Keuntungan terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal, sedangkan beban kerusakan ditinggalkan kepada masyarakat di garis depan.
Modal dapat berpindah mengikuti peluang keuntungan. Warga tidak bisa begitu saja memindahkan kampung, sejarah, dan ikatan batin mereka dengan tanah kelahiran.
Nikel untuk Kendaraan Listrik, Jejak Kerusakan Tertinggal di Maluku Utara
Industri nikel Maluku Utara juga dipromosikan sebagai bagian dari masa depan yang lebih hijau. Kendaraan listrik menjanjikan pengurangan emisi di jalan raya negara-negara konsumen.
Citra bersih pada produk akhir tidak serta-merta menghapus jejak kerusakan sosial-ekologis dalam proses produksinya. Transisi energi tidak boleh memindahkan beban kerusakan dari negara konsumen ke daerah penghasil mineral.
Di usia ke-27, Maluku Utara berdiri di persimpangan antara gemerlap investasi dan derita warga di sekitar tambang. Tema "Tumbuhnya Harus Terasa" menjadi ujian apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menjalar ke dapur rakyat, atau tetap berhenti di gerbang pabrik.