Ternate — Riset Walhi Maluku Utara mengukur empat parameter logam berat dalam sampel air, yakni kromium heksavalen atau Cr (VI), merkuri (Hg), kobalt (Co), dan nikel (Ni). Dari 12 titik yang diuji, merkuri dan nikel umumnya berada di bawah ambang batas baku mutu.
Konsentrasi kromium heksavalen di salah satu titik perairan laut tercatat tepat berada pada batas ambang baku mutu. "Pengujian sampel air ini dengan mengukur empat parameter logam berat, yaitu kromium heksavalen atau Cr (VI), merkuri (Hg), kobalt (Co), dan nikel (Ni)," ucap Direktur Walhi Malut, Astuti N. Kilwouw.
Dua Titik Air Terjun Lampaui Baku Mutu
Pemeriksaan di dua titik air terjun justru menunjukkan hasil yang jauh berbeda. Titik pertama mencatat konsentrasi kromium heksavalen 1,64 miligram per liter atau sekitar 24 kali lipat dari ambang batas baku mutu.
Titik kedua mencatat konsentrasi 0,699 miligram per liter atau sekitar 14 kali lipat dari ambang batas. Kedua sumber air terjun itu dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Astuti memaparkan kandungan kromium heksavalen dalam konsentrasi tinggi berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, antara lain iritasi kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kanker.
Peta 12 Titik Sampel: dari Pesisir Laut hingga Sumur Warga
Lokasi pengambilan sampel meliputi enam titik di perairan pesisir laut, yakni dua di timur, dua di tengah, dan dua di barat. Dua titik lain berada di Sungai Akelamo, dua titik di air terjun, dan dua sumur warga di ujung timur serta barat permukiman.
Walhi memakai tiga standar baku mutu sebagai alat ukur komparasi. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 untuk air laut, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 untuk air terjun dan danau, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 untuk air sumur.
Rangkaian penelitian terdiri dari pengambilan sampel air, uji laboratorium, dan penyusunan laporan analisis hasil riset. Seluruh proses berlangsung lima bulan, dari Mei hingga September 2026.
Walhi Belum Pastikan Sumber Pencemaran
Walhi menilai temuan ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena pengambilan sampel dilakukan di kawasan industri yang menghasilkan logam berat. Kondisi itu memunculkan indikasi kemungkinan keterkaitan antara aktivitas industri dan pencemaran air di Kawasi.
Meski demikian, Walhi menegaskan hasil pengujian sampel air belum cukup untuk memastikan sumber pencemaran berasal dari aktivitas industri. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab tingginya konsentrasi kromium heksavalen di sejumlah lokasi.
Riset 2019 dan Anomali Parameter Logam Berat
Guru Besar Universitas Khairun, Prof. Dr. Muhammad Aris, M.Si, menyampaikan pada 2019 ia bersama tim pernah melakukan riset di kawasan perairan Desa Kawasi. Saat itu kondisi perairan di kawasan tersebut dinilai sangat memprihatinkan.
Menurutnya, seiring pemberitaan dan masukan yang disampaikan, ada kecenderungan apa yang disampaikan selama ini telah mendapat perhatian. Ia menegaskan riset dilakukan untuk membuka fakta atau kebenaran berdasarkan hasil analisis secara ilmiah.
"Artinya langkah-langkah yang dilakukan dengan metode-metode yang telah tervalidisasi itu diharapkan dapat menjadi suatu tolak ukur," tegasnya.
Dalam pengujian terbaru, kata dia, temuan Walhi memperlihatkan penurunan kadar logam berat terlarut. Terdapat pula anomali pada parameter logam berat, meski hasil laboratorium menunjukkan konsentrasi yang diuji berada di bawah batas baku mutu.
Ia menuturkan kekeruhan air laut tidak selalu disebabkan keberadaan logam berat. Perubahan kondisi perairan dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk partikel yang terdapat di lingkungan laut.
"Oleh karena itu, penilaian dampak aktivitas pertambangan perlu disertai pemetaan risiko yang menyeluruh agar sumber perubahan kualitas air dapat diidentifikasi secara tepat," jelasnya.
Warga Kawasi Khawatir Kebutuhan Air Harian
Perwakilan warga yang juga Ketua Organisasi Rakyat Canga Kawasi, Ahmad Ibrahim, menegaskan sebagian warga merasa khawatir dengan kondisi sumber air yang mereka pakai setiap hari. Kekhawatiran itu muncul setelah hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan kromium heksavalen di dua titik air terjun melampaui baku mutu.
Diseminasi hasil riset digelar di Kedai Coffesua pada Kamis, 15 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-46 Walhi Nasional. Kegiatan bertema "Konferensi Pers dan Diseminasi Hasil Riset Kualitas Air di Kawasi Pulau Obi" itu menghadirkan tiga narasumber.