Harga MinyaKita di Halmahera Masih Tinggi, Gubernur Sherly Tjoanda Sebut Biaya Distribusi Jadi Biang Kerok

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:38:26 WIB
Gubernur Sherly Tjoanda menjelaskan tingginya harga MinyaKita di Halmahera akibat biaya distribusi yang tinggi.

TERNATE — Harga MinyaKita di wilayah Halmahera disebut masih lebih mahal ketimbang di Kota Ternate menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa faktor utama penyebabnya adalah biaya distribusi yang tinggi.

Menurut Sherly, saat ini provinsi tersebut baru memiliki dua gudang Bulog yang berlokasi di Kota Ternate dan Halmahera Utara. Namun, gudang yang aktif beroperasi baru di Ternate, sehingga distribusi ke kabupaten lain seperti Halmahera Barat dan Halmahera Timur masih dibebani ongkos logistik tambahan.

Mengapa Gudang Bulog di Daerah Sangat Dibutuhkan?

"Harus ada gudang Bulog di setiap kabupaten/kota. Selama ini yang aktif baru di Ternate, sehingga biaya distribusi masih tinggi," ujar Sherly saat diwawancarai di Ternate, Senin (25/5/2026).

Ketiadaan gudang di setiap kabupaten memaksa distributor menempuh jalur laut yang lebih panjang dan mahal. Akibatnya, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sulit diterapkan secara merata di seluruh pelosok Maluku Utara.

Langkah Pemprov: Bangun Gudang Baru di Halut

Pemerintah daerah tengah mendorong pembangunan dan pengembangan gudang Bulog di Halmahera Utara (Halut). Langkah ini diproyeksikan untuk menopang distribusi bahan pokok ke Halmahera Utara dan Halmahera Barat agar lebih efisien.

"Sedang diusahakan berikutnya bisa masuk di Halut untuk distribusi ke Halut dan Halbar," kata Sherly. Dengan adanya gudang di Halut, biaya logistik diharapkan bisa ditekan sehingga harga MinyaKita dan bahan pokok lainnya bisa lebih terjangkau.

Selain MinyaKita, Harga LPG Jadi Sorotan

Sherly juga menyoroti kenaikan harga LPG yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Distribusi LPG di Maluku Utara saat ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, seperti dari Ambon.

"LPG itu kewenangan pusat, jadi kita hanya mengikuti. Sekarang sedang dikoordinasikan solusi biaya logistik yang lebih murah. Saat ini kita sudah mengambil LPG dari Ambon," ungkapnya.

Pemprov Malut mendorong penambahan rute tol laut dan memperjuangkan pembangunan fasilitas pengisian LPG sendiri di daerah. Ambon dinilai sudah memiliki fasilitas pengisian sendiri, sementara Maluku Utara belum memilikinya.

Bagaimana Stok Pangan Secara Umum?

Meski ada persoalan distribusi, Sherly memastikan stok pangan secara umum aman. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, cabai, tomat, hingga ikan disebut masih tersedia dengan harga normal di pasaran Ternate.

“Untuk sementara masih normal. MinyaKita juga sudah masuk kembali. Sempat kosong di Bulog, tetapi sekarang stok sudah tersedia, jadi aman,” tandasnya.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: monitorindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top