Harita Nickel Siapkan 43 Hektare Kolam Pengendapan di Pulau Obi, Kualitas Air Terkoneksi Langsung ke KLHK

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:44:01 WIB
Kolam pengendapan seluas 43 hektare di Pulau Obi siap menahan partikel padat dari air limpasan tambang.

HALMAHERA SELATAN — Sistem pengelolaan air tambang di Pulau Obi, Halmahera Selatan, beroperasi dengan 52 unit kolam pengendapan di atas lahan 43 hektare. Infrastruktur ini dirancang untuk menahan air limpasan dari area penambangan agar partikel padat seperti lumpur dan tanah mengendap sempurna sebelum air dialirkan ke perairan umum.

Assistant Vice President Site Corporate Communications Harita Nickel, Joseph Sinaga, memaparkan bahwa pengelolaan air tambang dijalankan secara masif, terstruktur, dan terintegrasi langsung dengan sistem pemantauan pemerintah.

"Di pabrik konvensional, operator fasilitas pengolahan air bisa mengatur pompa inlet secara stabil. Sedangkan di area tambang, alam yang memegang kendali inlet," ujar Joseph, Sabtu (06/06/2026).

Metode Zigzag Perpanjang Waktu Pengendapan Lumpur

Perusahaan menerapkan metode aliran zigzag guna memperpanjang jarak tempuh air dari pintu masuk menuju pintu keluar. Metode ini memperlama waktu tinggal air (Hydraulic Retention Time/HRT) sehingga partikel tersuspensi memiliki kesempatan optimal untuk mengendap dengan bantuan bahan koagulan dan flokulan.

Fluktuasi curah hujan ekstrem menjadi tantangan utama tim di lapangan. Curah hujan di kawasan Pulau Obi sempat menyentuh angka 4.600 mm pada tahun 2022, kemudian turun ke kisaran 3.300 mm pada tahun berikutnya.

"Ketika hujan lebat terjadi, lonjakan debit air secara mendadak akan membawa beban total padatan tersuspensi yang sangat tinggi ke dalam kolam," ungkap Joseph.

Antisipasi Pendangkalan dan Risiko Satwa Liar

Untuk mengantisipasi pendangkalan akibat tingginya volume sedimentasi, Harita Nickel mengerahkan armada ekskavator dan dump truck secara aktif untuk mengeruk lumpur. Sedimen kemudian dipindahkan ke area pengeringan sebelum dibawa ke lokasi pembuangan untuk keperluan reklamasi lahan.

"Proses pengerukan ini harus berkejaran dengan waktu agar sedimen yang telah mengendap tidak kembali teraduk oleh turbulensi air akibat hujan baru," jelasnya.

Dinamika sosial dan ekosistem lokal turut mempengaruhi kompleksitas pengelolaan air. Lokasi pemukiman warga pendatang yang semakin dekat dengan jalur kanal menuntut operasional berjalan tanpa kesalahan. Di sisi lain, kemunculan satwa liar seperti buaya di sekitar aliran air menjadi indikator ekologis bahwa air hasil olahan cukup bersih bagi fauna.

"Namun, kehadiran satwa tersebut sekaligus menjadi faktor risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja ekstra bagi tim lapangan yang melakukan pemeliharaan kolam," pungkas Joseph.

Pemantauan Real-Time ke KLHK

Seluruh parameter kualitas air di pintu pengeluaran dipantau melalui sistem SPARING (Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam Jaringan). Sistem digital ini memastikan kadar pH, debit air, dan nilai Total Suspended Solids (TSS) selalu berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top