Harga Pertamax di Morotai Naik Rp 16.650 Per Liter, Warga Khawatir Harga Kebutuhan Pokok Ikut Melambung

Penulis: Edi Wahyono  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 13:17:31 WIB
SPBU Sri Dewi Jaya di Morotai resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.650 per liter.

MOROTAI — Kenaikan harga BBM non-subsidi mulai terasa langsung di kantong warga Pulau Morotai. SPBU Sri Dewi Jaya Kilo Tiga, satu-satunya stasiun pengisian bahan bakar umum di pulau itu, telah menyesuaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.650 per liter per Rabu (10/6/2026). Lonjakan ini mencapai lebih dari Rp 4.000 per liter, dari sebelumnya Rp 12.600.

Manager SPBU Sri Dewi Jaya, Haris Patasumowo, membenarkan penyesuaian harga tersebut. Ia menegaskan bahwa perubahan ini mengikuti keputusan nasional PT Pertamina Patra Niaga.

"Jadi BBM jenis Pertamax per pagi ini sudah naik. Karena secara nasional naik, maka di SPBU kami penjualan pagi ini sudah mengikuti harga terbaru," ujar Haris kepada media ini.

Harga BBM Lain dan Stok Aman

Haris menjelaskan, kenaikan kali ini hanya berlaku untuk Pertamax. Sementara untuk Dexlite, justru mengalami penurunan harga beberapa minggu sebelumnya. "Dexlite dari sekitar Rp 26 ribu per liter menjadi Rp 23 ribu per liter atau turun lebih dari Rp 3 ribu," jelasnya.

Meski harga melonjak, Haris memastikan pelayanan di SPBU tetap normal. "Masih kondusif seperti biasa, karena itu merupakan kebutuhan utama mereka sehingga tetap membeli BBM, khususnya Pertamax," katanya. Ia juga menjamin stok BBM aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sore hari.

Kekhawatiran Warga: Harga Kebutuhan Pokok Ikut Naik

Di sisi lain, warga mulai merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan ini. Mursal, seorang warga Morotai, mengaku terkejut dengan lonjakan harga yang dinilainya cukup tinggi. Ia khawatir dampaknya akan merembet ke harga kebutuhan pokok dan ongkos transportasi.

"BBM naik, kebutuhan dapur juga pasti ikut naik. Kalau di SPBU sudah naik, bagaimana dengan Pertamax yang dijual di depot-depot. Bisa saja harganya sampai Rp 20 ribu per liter," keluhnya.

Mursal menilai kebijakan ini sangat memberatkan masyarakat yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan. "Ini sangat berdampak pada aktivitas kami sebagai masyarakat, mulai dari ekonomi rumah tangga hingga kebutuhan lainnya. Kami berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM terlalu tinggi," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah setempat mengenai langkah antisipasi dampak kenaikan harga BBM non-subsidi di Morotai.

Reporter: Edi Wahyono
Back to top