Epistemologi Tidore: Cara Pandang Masyarakat Kesultanan dalam Memadukan Adat dan Islam Jadi Inspirasi Bangsa

Penulis: Edi Wahyono  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 10:48:31 WIB
Masyarakat Kesultanan Tidore memadukan adat dan Islam dalam sistem pengetahuan yang harmonis.

TIDORE — Herman Oesman, dosen Sosiologi FISIP UMMU, menuliskan kekagumannya terhadap Tidore sebagai wilayah yang tidak hanya dikenal sebagai kesultanan kepulauan-maritim berpengaruh di kawasan timur Indonesia, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan, kebudayaan, dan spiritualitas Islam. Dalam tulisannya, ia menyebut bahwa epistemologi Tidore merupakan cara pandang masyarakat setempat dalam memahami dunia, membangun hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta merawat nilai-nilai adat yang berpadu harmonis dengan ajaran Islam.

Bagaimana Islam Mengubah Sistem Pengetahuan di Tidore?

Masuknya Islam ke Tidore sejak era Kolano Muhammad Nakil (Sahajat) membawa perubahan besar. Pada masa kepemimpinan Kolano Ciriliyati yang pertama menggunakan gelar Sultan (Sultan Jamaluddin), Islam resmi menjadi agama kesultanan dan memberi pengaruh pada perkembangan hukum serta sistem pengetahuan. Kesultanan Tidore kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di kawasan timur Nusantara.

Islam tidak sekadar menjadi agama resmi, tetapi juga menjadi fondasi etika, hukum, pendidikan, dan tata pemerintahan. Para sultan Tidore membangun legitimasi kekuasaan melalui perpaduan antara syariat Islam dan adat lokal. Hal ini melahirkan sistem pengetahuan yang memandang kehidupan sebagai kesatuan antara dunia material dan spiritual.

Prinsip Adat Bersendi Syariah: Kunci Harmonisasi Sosial

Salah satu kekuatan utama epistemologi Tidore adalah kemampuannya memadukan adat dan Islam. Bagi masyarakat Tidore, adat tidak diposisikan sebagai lawan agama, melainkan sebagai instrumen sosial yang memperkuat nilai-nilai Islam. Prinsip ini mengingatkan pada ungkapan yang hidup dalam banyak tradisi kerajaan Islam Nusantara: adat bersendi syariah dan syariah bersendi Kitabullah.

Melalui prinsip tersebut, masyarakat Tidore mampu menjaga identitas budaya sekaligus mempertahankan komitmen terhadap ajaran agama. Kekuatan adat terlihat dalam berbagai ritual sosial, tata hubungan kekerabatan, penghormatan kepada orang tua, serta pengelolaan sumber daya alam. Pengetahuan lokal mengenai laut, pelayaran, perdagangan rempah-rempah, dan hubungan antarpulau diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat.

Sultan Nuku: Simbol Epistemologi Perlawanan

Ketika membicarakan epistemologi Tidore, nama Sultan Nuku tidak dapat dipisahkan. Sultan Nuku merupakan tokoh besar yang lahir dari tradisi intelektual dan politik Kesultanan Tidore. Ia memimpin perlawanan panjang terhadap kolonialisme Belanda sejak tahun 1780 hingga berhasil merebut kembali Tidore pada 1797. Nuku dikenal sebagai pemimpin karismatik yang mampu membangun aliansi lintas etnis dan wilayah, termasuk masyarakat Halmahera, Seram, Papua, dan Inggris.

Keberhasilan Nuku tidak semata-mata karena kemampuan militernya, tetapi juga karena pengetahuannya tentang geopolitik kawasan. Ia memahami bahwa kekuasaan kolonial harus dilawan melalui jaringan solidaritas yang luas. Perjuangan Nuku menunjukkan bahwa pengetahuan harus digunakan untuk membela martabat manusia dan mempertahankan kedaulatan. Sejarawan Leonard Andaya menyebut Nuku sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Maluku karena kemampuannya mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat dalam satu gerakan politik bersama.

Sultan Zainal Abidin Syah: Nasionalisme dari Tradisi Kesultanan

Tokoh besar lain yang lahir dari tradisi Tidore adalah Sultan Zainal Abidin Alting Syah. Ia merupakan Sultan Tidore ke-26 yang memimpin pada masa transisi menuju Indonesia merdeka. Berbeda dengan Nuku yang berjuang melawan kolonialisme, Sultan Zainal Abidin menghadapi tantangan integrasi dan nasionalisme di era modern. Warisan intelektual dari kedua sultan ini menjadi bukti bahwa epistemologi Tidore terus berkembang dan relevan sepanjang zaman.

Herman Oesman menegaskan bahwa epistemologi Tidore bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi masa depan Indonesia. Cara pandang yang memadukan adat, agama, dan pengetahuan lokal ini dinilai dapat menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa yang berakar pada kearifan lokal.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top