TERNATE — SMK Negeri 3 Kota Ternate resmi menggandeng Lembaga Kursus Noble Future Education (NFE) untuk memperkuat kemampuan bahasa asing para siswanya, khususnya penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang mayoritas berasal dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) seperti Pulau Taliabu. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate.
Kepala SMK Negeri 3 Kota Ternate, Mustamin Lila, menegaskan langkah ini diambil cepat agar kapasitas sumber daya manusia (SDM) siswa dapat berkembang dan memiliki peluang bekerja di luar negeri. Menurutnya, penguasaan bahasa asing menjadi kunci bagi lulusan SMK untuk bersaing di pasar global, sejalan dengan program pemerintah mendorong pendidikan vokasi bertaraf internasional.
“Kami ingin memberikan tambahan pembelajaran bahasa asing yang terbaik kepada siswa penerima beasiswa ADEM. Langkah ini harus cepat diambil agar SDM mereka dapat berkembang dan memiliki peluang bekerja di luar negeri,” kata Mustamin.
Pimpinan Noble Future Education, Mohammad Taufik atau akrab disapa Ipox, menjelaskan bahwa pihaknya justru menambah porsi pertemuan dari usulan awal sekolah. Sekolah semula mengusulkan dua kali pertemuan per pekan, namun NFE menyiapkan program empat kali pertemuan setiap minggunya.
“Dari empat pertemuan tersebut, tiga kali pembelajaran akan berlangsung di sekolah dan satu kali di lembaga NFE. Setiap pertemuan berlangsung sekitar 90 menit setelah jam sekolah,” ujar Ipox. Teknis pembelajaran sepenuhnya disiapkan oleh lembaga kursus dengan metode BRIFIA, pendekatan khas NFE yang menggabungkan unsur Britain, Finland, dan America.
Penguatan bahasa Inggris ini tidak berhenti di ruang kelas. Mustamin menyebutkan, dalam waktu dekat sekolah akan mendapatkan sosialisasi dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) terkait peluang kerja bagi lulusan SMK di luar negeri. Hal ini menjadi rangkaian persiapan agar siswa tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga memahami prosedur bekerja secara legal.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muhamad Djisman Ohoiyuf, menambahkan bahwa program ini diinisiasi bersama pembina OSIS Dra. Ainun Kentji dan Kepala Perpustakaan Suhendro. Pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya teknis pembelajaran kepada NFE agar hasilnya maksimal.
Ipox berharap para siswa mengikuti program ini dengan serius dan konsisten, bukan sekadar mengikuti tren. Ia mengingatkan agar siswa tidak terjebak pada budaya ikut-ikutan yang kerap menghambat pengembangan diri.
“Mudah-mudahan dong konsisten, jangan ikut budaya ‘iko-iko rame’ yang selalu saya pantau di lembaga saya,” katanya. Ia menilai kemampuan bahasa asing menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi persaingan global.
“Masa depan tergantung pada kita. Kita sebagai anak-anak bisa membentuk jalan kita sendiri. Orang tua adalah support system, bukan judgment system atau decision system. Siapa yang bisa menguasai bahasa, maka dia akan menguasai dunia di era saat ini,” tandasnya.