TIDORE — Proses panjang mengubah pohon kaliandra menjadi energi listrik diperkenalkan PLN kepada Relawan Bakti BUMN dalam kegiatan edukasi di PLTU Tidore, Desa Rum Balibunga, Kecamatan Tidore Utara. Para relawan diajak melihat langsung tahapan mulai dari penanaman, pemanenan, hingga pencacahan biomassa sebelum digunakan sebagai bahan bakar pendamping batu bara.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Dony Noor Gustiarsyah, mengatakan penerapan co-firing menjadi langkah strategis perseroan dalam menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mengurangi pemakaian bahan bakar fosil.
"PLN terus melakukan inovasi untuk menghadirkan energi yang andal sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi. Melalui penerapan co-firing, biomassa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping batu bara sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil," kata Dony, Minggu (23/8/2026).
Mengapa Memilih Kaliandra?
Kaliandra dipilih karena masa panennya relatif cepat dan mudah dibudidayakan di lahan kritis. Pengembangan tanaman ini dilakukan PLN untuk memastikan ketersediaan bahan baku biomassa secara berkelanjutan tanpa bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Pembangkit yang menjadi penopang sistem kelistrikan Ternate-Tidore ini memiliki daya mampu netto 12,6 MW. Dengan kapasitas tersebut, kehadiran biomassa lokal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada batu bara yang selama ini menjadi bahan bakar utama.
Dampak Ekonomi untuk Warga Sekitar
PLN menilai pemanfaatan biomassa tidak hanya berdampak pada lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan bahan baku membuka peluang ekonomi baru di sekitar wilayah pembangkit.
Rantai pasok lokal yang terbentuk dari budidaya kaliandra ini sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran dalam ekosistem energi berkelanjutan di Maluku Utara.
Target Pasokan Biomassa Masih Jauh
Realisasi pasokan biomassa hingga pertengahan tahun baru mencapai 292 ton. Angka tersebut masih jauh dari target tahunan sebesar 1.000 ton, artinya diperlukan percepatan budidaya dan pengumpulan bahan baku pada semester kedua.
Penerapan co-firing ini juga menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam proses bisnis PLN. Dari sisi lingkungan, penggunaan biomassa diarahkan untuk menekan emisi sektor ketenagalistrikan, sementara dari sisi sosial, program ini menghadirkan keterlibatan langsung masyarakat.
PLN memastikan pengembangan biomassa melalui co-firing terus dilakukan dengan tetap mengutamakan keandalan sistem kelistrikan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan di wilayah timur Indonesia.