TERNATE — Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendorong pemerintah daerah di Maluku Utara memanfaatkan kawasan transmigrasi untuk memenuhi target cetak sawah nasional. Dari target 10.000 hektare yang dibebankan ke provinsi ini, realisasi baru sekitar 1.900 hektare, sehingga masih ada ruang luas untuk ekspansi lahan produktif baru.
"Peluang cetak sawah baru masih sangat besar jika dapat memaksimalkan lahan-lahan transmigrasi yang sudah ada dan masih belum produktif," ujar Viva Yoga usai memimpin rakor bersama jajaran Pemprov Maluku Utara di Ternate, Jumat (21/8/2026).
Rakor ini dihadiri Sekretaris Daerah Pemprov Maluku Utara Samsuddin Abdul Kadir, kepala dinas ketransmigrasian, serta sekretaris daerah dari Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Morotai.
Irigasi dan Bendungan Jadi Syarat Mutlak Cetak Sawah
Viva Yoga menegaskan pembukaan sawah baru tidak bisa berjalan sendiri. Infrastruktur pendukung seperti saluran irigasi, bendungan, dan ketersediaan sumber air harus dipastikan lebih dulu.
"Jangan sampai cetak sawah lalu tidak ada saluran irigasi dan bendungan. Jadi saat cetak sawah, juga akan dibangun saluran irigasi dan bendungan untuk menyediakan air," paparnya.
Untuk itu, Kementrans akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Kemendikdasmen, dan Kemenkes dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Jika pemerintah daerah sepakat membuka lahan baru, koordinasi dengan Kementan akan segera dilakukan.
Malut Masih Impor Beras dari Provinsi Lain
Dalam rakor tersebut, sejumlah persoalan klasik ikut mengemuka. Para kepala dinas dan sekretaris daerah mengungkapkan masalah irigasi yang belum memadai, limbah pertambangan, hingga banjir yang kerap mengganggu produktivitas sawah.
Akibatnya, produksi beras dari kawasan transmigrasi belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Kebutuhan beras dan sembako lain, terutama di Ternate, masih didatangkan dari provinsi lain.
"Dari rakor inilah kita serap dan dengar apa saja keluhan dari kawasan transmigrasi di Malut," ujar pria yang pernah dua periode menjadi anggota Komisi IV DPR itu.
Cetak Sawah untuk Ciptakan Lapangan Kerja
Program cetak sawah di Maluku Utara tidak hanya bertujuan mengejar swasembada beras nasional. Viva Yoga menekankan program ini juga menjadi instrumen penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
"Tenaga kerjanya bisa memanfaatkan dari masyarakat setempat atau lokal," tuturnya.
Urgensi cetak sawah di luar Jawa disebutnya kian mendesak. Setiap tahun, sekitar 100.000 hektare sawah di Pulau Jawa beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan, dan fasilitas umum lainnya.
Pemprov: Transmigrasi Mengubah Kebiasaan Bertani Masyarakat
Sekda Pemprov Maluku Utara Samsuddin Abdul Kadir menyambut baik rakor ini. Ia menilai forum tersebut efektif karena keluhan daerah langsung didengar oleh wakil menteri.
Menurutnya, keberadaan program transmigrasi telah membawa dampak signifikan bagi provinsi itu. Selain mampu menghasilkan beras sendiri, kebiasaan bercocok tanam padi dari para transmigran juga menular ke masyarakat lokal.
"Adanya transmigran yang bercocok padi di sawah, kebiasaan itu juga menular ke masyarakat lokal," ungkapnya.
Maluku Utara, lanjut Samsuddin, bertekad meningkatkan produksi beras untuk memenuhi kebutuhan sendiri sekaligus mendukung target swasembada beras nasional.