MALUKU UTARA — Shakhtar Donetsk tidak bisa lagi menunda pencarian markas permanen untuk laga Eropa. Sejak 2014, klub berjuluk The Miners itu terus berpindah-pindah venue akibat konflik di Ukraina Timur, dan invasi Rusia pada 2022 mempersempit pilihan mereka. Stamford Bridge, stadion kebanggaan Chelsea di London, menjadi solusi paling stabil yang pernah mereka dapatkan.
Kesepakatan antara Shakhtar dan Chelsea telah mencapai tahap akhir dan tinggal menunggu restu regulator sepak bola Eropa. Bagi Chelsea, kerja sama ini menjadi cara untuk tetap merasakan atmosfer Liga Champions meski mereka hanya duduk sebagai penonton musim ini.
Mengapa London Menjadi Pilihan Final?
Shakhtar sejatinya sudah terbiasa menggelar pertandingan kandang di luar Ukraina. Dalam beberapa musim terakhir, mereka sempat memakai stadion di Jerman, Polandia, dan Slovenia. Namun, venue-venue itu hanya bersifat sementara dan sering berubah setiap musim.
Stamford Bridge menawarkan kepastian. Klub Ukraina itu tidak perlu lagi pindah-pindah markas sepanjang fase liga, dan London memiliki komunitas Ukraina yang besar. Kedekatan dengan para suporter yang mengungsi ke Inggris menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki kandang-kandang sementara sebelumnya.
Kesepakatan yang Menguntungkan Kedua Klub
Chelsea mengakhiri Premier League 2025/2026 di posisi ke-10, gagal total meraih tiket ke kompetisi Eropa. Alhasil, Stamford Bridge menganggur pada malam-malam pertandingan Eropa musim ini.
Pinjaman stadion ini menjadi semacam kompensasi bagi Chelsea. Mereka tetap mendapatkan pendapatan dari operasional stadion, sementara Shakhtar mendapat venue bertaraf elite dengan fasilitas kelas dunia. Bagi The Miners, bermain di stadion legendaris London adalah pengalaman istimewa yang mereka harap bisa menjadi motivasi tambahan bagi para pemain.
Arda Turan dan Ambisi Shakhtar di Panggung Eropa
Shakhtar tiba di Liga Champions musim ini dengan status juara Ukrainian Premier League 2025/2026. Gelar tersebut menjadi trofi liga ke-16 dalam sejarah klub dan mengukuhkan dominasi mereka di kompetisi domestik.
Musim ini juga menjadi musim penuh kedua bagi Arda Turan sebagai pelatih kepala. Mantan pemain tim nasional Turki itu mulai menangani Shakhtar pada musim panas 2025 dan langsung membawa timnya meraih gelar juara pada musim pertamanya.
Dengan kandang yang kini lebih representatif, Shakhtar berharap bisa tampil kompetitif melawan klub-klub besar Eropa. Stamford Bridge akan menjadi saksi bagaimana klub yang terus berjuang di tengah konflik ini mencoba menulis cerita baru di kompetisi paling bergengsi di benua biru.