Pencarian

Piala Dunia U-17 di Maluku Utara Usai, Warga Ternate-Tidore-Halmahera Kembali Baku Bae dan Hadapi Realitas Infrastruktur

Jumat, 24 Juli 2026 • 16:49:31 WIB
Piala Dunia U-17 di Maluku Utara Usai, Warga Ternate-Tidore-Halmahera Kembali Baku Bae dan Hadapi Realitas Infrastruktur
Suasana warung kopi di Ternate kembali normal setelah warga beralih dari perdebatan sepak bola ke aktivitas sehari-hari pasca Piala Dunia U-17.

TERNATE — Semarak Piala Dunia U-17 yang mengubah warung kopi, pangkalan ojek, dan pasar di Maluku Utara menjadi arena debat bola selama hampir sebulan kini hanya menyisakan cerita. Warga yang sebelumnya saling sindir karena beda dukungan tim—Argentina lawan Inggris, Brazil versus Prancis—kini dituntut kembali ke realitas: bekerja, menghidupi keluarga, dan mengawasi pembangunan daerah.

Solidaritas Mekanik Saat Piala Dunia Kini Berganti Tuntutan Hidup

Selama turnamen berlangsung, ikatan emosional sementara—yang oleh sosiolog Émile Durkheim disebut solidaritas mekanik—begitu kuat. Orang-orang rela begadang, demam jika tim kesayangan kalah, dan ramai-ramai memprotes wasit atau FIFA saat hasil tak sesuai prediksi. Namun, begitu Spanyol mengangkat trofi, semua itu berakhir.

“Perbedaan pilihan tim waktu piala dunia kemarin harus tara jadi penyebab perpecahan, melainkan harus jadi pengalaman yang memperkaya interaksi dan memperkuat rasa saling menghargai,” tulis Budhy Nurgianto dalam tulisannya yang beredar di kalangan warga Ternate.

Dari Baku Terek ke Baku Bae: Modal Sosial untuk Bangun Daerah

Kebiasaan “baku terek tapi tara sampe dendam, baku mara tapi tara sampe kase putus tali silaturahmi” dinilai bisa menjadi modal penting. Semangat yang sama, menurut pengamat, diperlukan untuk mendorong kemajuan Maluku Utara yang masih dihadapkan pada segudang pekerjaan rumah.

Di antara persoalan yang sempat terlupakan selama euforia sepak bola adalah infrastruktur jalan yang rusak, pengelolaan sampah di perkotaan, mutu pendidikan dan layanan kesehatan, serta rencana utang Rp 1 triliun yang diajukan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Warga kini diingatkan kembali pada kewajiban untuk mengawasi kebijakan tersebut.

Mengapa Momen Ini Penting bagi Warga Maluku Utara?

Dalam perspektif sosiologi, peralihan dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik—saling membutuhkan untuk bertahan hidup—adalah langkah waras. “Torang semua harus bisa menjaga sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas,” demikian pesan yang mengemuka di kalangan warga usai pesta bola usai.

Bagi warga Ternate, Tidore, dan Halmahera, tugas sekarang adalah “baku bae lagi”—berpelukan kembali, melupakan perdebatan kecil, dan bersama-sama menyuarakan ketidakadilan serta mendorong pembangunan daerah. Piala dunia telah jadi hiburan sementara; kini realitas menagih perhatian penuh.

Follow kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cermat.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks