Krisis Air Bersih dan Jalan Tani Lumpuhkan 778 Warga Desa Adu Halmahera Barat, Anggota DPRD Riswan Hi Kadam Turun Tangan

Penulis: Boyke Sihombing  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 18:55:31 WIB
Warga Desa Adu, Halmahera Barat, mengantre air bersih di titik air setempat akibat krisis air yang melumpuhkan aktivitas harian 778 jiwa.

JAILOLO — Jeritan warga Desa Adu, Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat, akhirnya sampai ke meja wakil rakyat. Dalam kunjungan reses, anggota DPRD Halmahera Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Riswan Hi Kadam, mendengar langsung keluhan 336 kepala keluarga (KK) yang hidup di bawah tekanan krisis air bersih dan lumpuhnya akses jalan tani.

Desa berpenduduk 778 jiwa ini menghadapi dua persoalan krusial yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Warga kehilangan waktu produktif setiap hari hanya untuk mengantre air, sementara para petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengangkut hasil panen karena medan menuju perkebunan sangat berat.

Antrean Jerigen dari Fajar hingga Senja

Setiap hari, barisan jerigen plastik panjang menghiasi titik-titik air di Desa Adu. Warga bergantian menanti tetesan air yang menjadi kebutuhan dasar keluarga, sebuah rutinitas yang menguras waktu dan tenaga. Ironisnya, setelah seharian mengantre, volume air yang didapat seringkali masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini memaksa warga mengorbankan kesempatan mencari nafkah. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja di kebun atau mengurus usaha, habis terbuang sia-sia demi memastikan keluarga memiliki air untuk minum dan memasak.

Hasil Panen Tergerus Biaya Angkut

Di sektor ekonomi, mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani juga terhambat. Jalan tani yang tidak dibangun membuat akses menuju lahan perkebunan menjadi medan perjuangan berat, terutama saat musim panen tiba. Ongkos transportasi yang mahal menggerus keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati keluarga.

Akibatnya, pendapatan yang diharapkan untuk membiayai pendidikan anak-anak justru habis di jalan. Siklus ini membuat warga Desa Adu sulit keluar dari jerat kemiskinan dan keterbatasan.

Komitmen Riswan: Bukan Usulan Biasa, tapi Kebutuhan Darurat

Mendengar langsung kepedihan konstituennya, Riswan Hi Kadam menegaskan sikapnya. Ia berjanji tidak akan tinggal diam dan akan membawa persoalan ini menjadi prioritas di tingkat kabupaten.

“Selaku wakil rakyat yang telah bapak dan ibu pilih, saya berkomitmen penuh akan memperjuangkan dan terus menyuarakan aspirasi ini kepada pemerintah daerah,” tegas Riswan di hadapan warga yang hadir dalam reses tersebut.

Politisi PKB itu menilai pemenuhan air bersih dan pembangunan jalan tani di Desa Adu bukan lagi sekadar usulan biasa, melainkan kebutuhan darurat kemanusiaan. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat untuk merespons dengan kepekaan sosial dan alokasi anggaran yang nyata.

Harapan Warga Menunggu Realisasi Anggaran

Melalui momentum reses ini, warga Desa Adu berharap ada tindak lanjut konkret. Mereka mendambakan sentuhan rehabilitasi jaringan air bersih dan pembangunan jalan tani agar 336 KK di wilayah tersebut dapat kembali hidup layak dan mandiri secara ekonomi.

Persoalan ini kini menjadi catatan penting bagi DPRD Halmahera Barat. Publik menunggu langkah lanjutan dari Riswan Hi Kadam dan pemerintah daerah untuk memastikan jeritan warga Desa Adu tidak berakhir hanya sebagai catatan reses belaka.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: nuansamalut.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top