TIDORE — Komitmen Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam melestarikan bahasa ibu mendapat pengakuan resmi dari Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara. Penghargaan tersebut diterima Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan Ismail Dukomalamo pada acara Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Maluku Utara Tahun 2026 di Ternate, Kamis.
Ismail menegaskan bahwa apresiasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan nyata dari perhatian pemkot terhadap keberlangsungan Bahasa Tidore di tengah arus modernisasi.
"Bahasa daerah adalah kearifan lokal yang harus dihidupkan dan dilestarikan karena bahasa menunjukkan jati diri daerah dan suatu bangsa," kata Ismail seusai menerima penghargaan.
Menurut Ismail, pelestarian Bahasa Tidore tidak cukup hanya dengan menjaganya tetap dikenal. Bahasa ini harus dirawat agar terus digunakan dalam berbagai bentuk komunikasi, baik formal maupun nonformal.
Ia menekankan bahwa bahasa daerah memiliki posisi strategis sebagai penanda identitas dan kekayaan budaya yang harus diwariskan lintas generasi. Menghilangnya sebuah bahasa berarti hilang pula sebagian cara pandang dan kearifan yang melekat di dalamnya.
"Bahasa Tidore adalah jati diri anak cucu Tidore di mana pun berada. Kami bangga berbahasa Tidore," ujarnya.
Ismail menyampaikan terima kasih kepada Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara atas penghargaan yang diberikan. Ia berharap pengakuan ini mampu memicu Pemkot Tidore Kepulauan dan seluruh masyarakat untuk semakin serius merawat Bahasa Tidore sebagai bahasa ibu yang sarat nilai kearifan lokal.
Persoalan pelestarian bahasa daerah di Maluku Utara memang menghadapi tantangan besar. Generasi muda di kawasan perkotaan kini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam percakapan sehari-hari.
Tanpa upaya revitalisasi yang sistematis, sebuah bahasa bisa kehilangan penutur aktif dan berujung pada kepunahan. Karena itu, program yang digagas Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah di wilayah kepulauan ini.
Ismail menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama generasi muda. Mereka adalah penentu apakah Bahasa Tidore tetap hidup atau perlahan ditinggalkan seiring perkembangan zaman.
Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu sarana strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerahnya. Melalui ajang tersebut, anak-anak dan remaja diajak berkompetisi sekaligus berkreasi dengan menggunakan bahasa ibu mereka.
Pemkot Tidore Kepulauan berkomitmen untuk terus mendukung program serupa ke depan. Penghargaan dari Balai Bahasa ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar Bahasa Tidore tetap hidup dan berakar kuat di tanah kelahirannya sendiri.