Pemkab Halmahera Barat Gandeng Disnav Ambon Kaji Alur Pelayaran dan Kolam Labuh di Loloda Tengah

Penulis: Boyke Sihombing  •  Minggu, 20 September 2026 | 18:16:31 WIB

HALMAHERA BARAT — Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, bersama UPP Kelas III Jailolo menggandeng Distrik Navigasi (Disnav) Tipe A Kelas I Ambon meninjau langsung alur pelayaran dan kolam labuh di Desa Barataku, Loloda Tengah, Sabtu (19/9/2026). Peninjauan ini menjawab desakan warga yang sebelumnya mencegat kapal sebagai bentuk protes atas sulitnya akses transportasi menuju wilayah mereka.

Sebelum turun ke laut, tim gabungan menggelar pertemuan bersama Camat Loloda Tengah, sejumlah kepala desa, dan masyarakat setempat. Kajian lapangan ini akan menentukan aspek keselamatan pelayaran sekaligus menjadi dasar tahapan berikutnya agar kapal perintis dapat melayani Loloda Tengah.

Dishub Sebut Kehadiran Disnav Ambon sebagai Lompatan Besar

Kepala Dinas Perhubungan Halmahera Barat, Fabianus Atajalim, menyebut kehadiran Disnav Ambon sebagai lompatan besar dalam menyelesaikan masalah transportasi di Loloda Tengah. Kunjungan itu merupakan implementasi rekomendasi dari hasil audiensi bersama kementerian terkait.

"Kemarin saya langsung ke Ambon dan syukurnya mereka (Disnav) juga punya nurani yang sama dengan kita dalam membantu masyarakat. Jadi hari ini mereka langsung datang ke sini," ujar Fabianus.

Fabianus mengingatkan warga bahwa proses agar kapal bisa resmi bersandar di Barataku membutuhkan waktu dan tahapan regulasi yang ketat. "Untuk itu, kami sangat membutuhkan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat," tambahnya.

Kapal Pelat Merah Wajib Penuhi Standar Keselamatan Sebelum Rute Dibuka

Kepala UPP Kelas III Jailolo, Rosihan Gamtjim, menjelaskan kapal pelat merah memiliki aturan keselamatan yang jauh lebih ketat dibandingkan kapal swasta. Standar keselamatan kapal, jiwa, dan barang harus terpenuhi secara hukum sebelum rute baru dibuka.

"Untuk memasukkan kapal pelat merah itu tidak semudah memasukkan kapal swasta. Kalau kapal swasta itu suka-suka owner atau pemilik kapal. Dia mau masukkan kemudian ada kecelakaan, ya dia tanggung jawab. Kalau kapal pelat merah, semua bertanggung jawab," tegas Rosihan.

Rosihan menyampaikan wilayah Barataku belum masuk dalam penetapan lokasi sebagai pelabuhan secara nasional. Bupati James Uang telah mengajukan usulan resmi ke Kementerian Perhubungan agar wilayah tersebut ditetapkan sebagai lokasi pelabuhan laut, berjalan paralel dengan kajian teknis di lapangan.

"Pelabuhan punya wilayahnya, kalau kami punya istilah itu daerah lingkungan kerja perairan maupun daratan. Itu ada hukumnya, nah Barataku sendiri belum turun hukumnya, jadi kami ini datang tinjau, ini belum masuk perencanaan. Nanti kalau hukumnya sudah turun dan ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan, baru masuk ke tahapan perencanaan, setelah itu baru dilaksanakan pembangunan," tambahnya.

Disnav Petakan Hidrografi dan Meteorologi untuk Dasar Uji Coba Kapal

Dinas Perhubungan dan UPP Jailolo dibantu tim teknis Disnav Tipe A Kelas I Ambon memetakan kondisi hidrografi dan meteorologi setempat, meliputi kondisi angin, gelombang, dan alur laut. Rekomendasi hasil tinjauan ini akan menjadi dasar bagi Bupati untuk mengajukan permohonan persinggahan kapal (uji coba) meski status labuh belum permanen.

"Mudah-mudahan ini menjadi catatan. Mari kita saling mendukung, jangan bosan-bosan mengingatkan, baik masyarakat, kades, camat, DPRD, Bupati, dan DPR RI, serta DPD, sehingga tahapan ini berkesinambungan, jangan jalan di tempat. Jadi jangan bosan-bosan menyuarakan, mudah-mudahan seluruh aspeknya terpenuhi, yakin dan percaya kapal pasti masuk," tandas Rosihan.

Perwakilan Disnav Tipe A Kelas I Ambon, Heintje, menegaskan fokus utama peninjauan adalah memastikan aspek keselamatan pelayaran dari sisi laut agar kapal dapat berlabuh dan berlayar dengan aman tanpa risiko kecelakaan.

"Kita ditugaskan itu untuk tinjau dari keselamatan pelayaran dari sisi lautnya. Alurnya, anginnya, gelombangnya, itu harus dikaji, karena kapal yang datang itu harus aman dan selamat dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Jadi tidak ada yang bilang tidak selamat, karena kita ini regulator untuk keselamatan kapal itu," tegas Heintje.

Heintje menambahkan optimismenya melihat kondisi alam yang mendukung saat tim hendak melakukan peninjauan langsung di lapangan. "Mungkin Tuhan sudah kabulkan doa bapak/ibu, karena kemarin ombak, hari ini kondisi laut mendukung untuk kita turun tinjau. Jadi saya yakin ada yang baik di sini," ucap Heintje di hadapan masyarakat.

Warga Terisolasi, Jalur Darat Rusak dan Jalur Laut Bertaruh Nyawa

Camat Loloda Tengah, Suparto Lansip, dan Ketua Apdesi setempat menyampaikan apresiasi sekaligus harapan besar. Suparto mengungkapkan selama ini masyarakat Loloda Tengah terisolasi akibat buruknya akses infrastruktur. Jalur darat yang ada rusak parah dan rawan kecelakaan, sementara jalur laut dipenuhi risiko bertaruh nyawa akibat cuaca ekstrem.

Suparto menyebut memasuki bulan September, kondisi cuaca ke depan menuju Oktober hingga Desember diprediksi semakin menantang bagi pelayaran rakyat. Warga berharap kajian alur dan kolam labuh ini mempercepat kehadiran kapal perintis yang selama ini dinanti.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top