TERNATE — Small Shelter Island Foundation (SSI) menanam 1.020 pohon kopi dan matoa di lahan seluas 2 hektar di Bandinga, Kelurahan Loto, Kota Ternate, Maluku Utara. Penanaman berlangsung Minggu, 20 September 2026, dan dipantau langsung tim monitoring PMU Folu-NC4 Kementerian Kehutanan.
Program penanaman ini mendapat dukungan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui Folu Net Sink 2030, kerja sama Indonesia dan Norwegia. Ada lima varian kopi yang ditanam: arabica, robusta, exelco, liberica, dan matoa.
Ahmad Sahab, tenaga ahli Kehutanan PMU Folu-NC4 Kementerian Kehutanan, menyampaikan bahwa kunjungan lapangan merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi layanan dana masyarakat untuk lingkungan. Program itu masuk dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.
"Kami memantau setelah kegiatan dilaksanakan (penanaman), kami ingin melihat progres pertumbuhan tanaman termasuk kendala di lapangan yang akan menjadi bagian dari evaluasi perbaikan program di masa mendatang," kata Sahab.
Sahab menambahkan, layanan dana masyarakat mendorong partisipasi warga di tingkat tapak melalui program penanaman. Tanaman yang dipilih merupakan tanaman produktif sehingga bermanfaat bagi lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ketua Small Shelter Island, Andy Kurniawan, menilai program dana masyarakat untuk lingkungan sebagai langkah ikut serta dalam gerakan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Andy yang juga akademisi Universitas Khairun itu menyebut program ini bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Dari sisi penerima manfaat, perwakilan masyarakat Bandinga, Sartika Syafi, mengangkat manfaat program bagi peningkatan taraf ekonomi dan perlindungan lingkungan. Ia berharap program layanan dana masyarakat untuk lingkungan memiliki keberlanjutan.
"Kami berharap program ini berlanjut, tidak hanya program penanaman tapi juga perawatan karena adanya dampak dari kemarau panjang maka pohon yang telah ditanam tidak bertumbuh dengan maksimal jadi perlu adanya upaya penambahan fasilitas seperti tandon air," kata Sartika.
Kemarau panjang menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam perawatan tanaman. Sartika menyebut pohon yang sudah ditanam tidak bertumbuh maksimal akibat kondisi tersebut, sehingga perlu penambahan fasilitas seperti tandon air.
Temuan lapangan itu akan menjadi bahan evaluasi perbaikan program ke depan. Program penanaman ini menjadi bagian dari aksi iklim di Maluku Utara yang menyasar penurunan emisi gas rumah kaca sekaligus penguatan ekonomi masyarakat setempat.