MALUKU UTARA — PLN Indonesia Power menggelontorkan investasi Rp 3,3 triliun untuk membangun PLTS 60 MWp dan BESS 200 MWh di 10 lokasi terisolasi Sulawesi Tengah. Proyek dedieselisasi ini menargetkan penurunan biaya pokok penyediaan listrik hingga Rp 1.000 per kWh. Langkah tersebut menjadi bagian dari tiga kolaborasi strategis yang diteken perseroan untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyatakan ketiga kolaborasi tersebut memperluas cakupan transisi energi, dari sekadar menambah pembangkit energi terbarukan hingga memperkuat aset dan industri pendukung. Menurut dia, transisi energi harus mendatangkan nilai tambah yang lebih luas, bukan hanya menghadirkan listrik lebih bersih.
"Kami ingin transisi energi memberikan nilai tambah yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan TKDN, dan membangun kapabilitas Indonesia agar semakin kompetitif di tingkat regional," ujar Bernadus di Jakarta.
PLN Indonesia Power menggandeng PT ACE Energy Service (ACEES) untuk menggarap proyek dedieselisasi di 10 lokasi terisolasi Sulawesi Tengah. Fasilitas itu memiliki potensi kapasitas PLTS 60 MWp dan BESS 200 MWh, dengan estimasi investasi Rp 3,3 triliun.
Pembiayaan proyek direncanakan berasal dari konsorsium perbankan Korea dan Indonesia. Pengembangan juga memakai panel surya produksi dalam negeri dari Trina Mas Agra Indonesia guna mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Dari sisi keekonomian, integrasi PLTS dan BESS berpotensi menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) hingga sekitar Rp 1.000 per kWh. Besaran efisiensi tetap bergantung pada karakteristik sistem kelistrikan di tiap lokasi.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah menuturkan, integrasi PLTS dan BESS mengurangi ketergantungan wilayah terisolasi terhadap pembangkit berbahan bakar diesel.
"Integrasi PLTS dan BESS memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar diesel. Dengan sistem penyimpanan energi, pasokan listrik dari PLTS dapat dikelola lebih optimal sehingga keandalan sistem tetap terjaga sekaligus memberikan potensi efisiensi biaya penyediaan listrik," kata Julita.
Bagi pelanggan di daerah terpencil, sistem penyimpanan energi membuat pasokan listrik dari panel surya tidak lagi bergantung pada cuaca. Listrik siang hari yang tidak terpakai disimpan untuk memenuhi kebutuhan malam, sehingga pemadaman akibat diesel yang boros bahan bakar bisa ditekan.
Pada sisi pengelolaan aset, PLN Indonesia Power Services (PLN IP Services) menjalin kerja sama dengan PT ABB Sakti Industri. Cakupannya meliputi pemeliharaan dan perbaikan generator, motor, serta Variable Speed Drive (VSD)/inverter, penyediaan produk dan suku cadang ABB, hingga life assessment generator dan motor.
PLN IP Services juga menggandeng PT Barata Indonesia (Persero) dan Technofit Sdn Bhd untuk membangun Pusat MRO Turbin dan Rotating Equipment di Plant PKT Cilegon. Kolaborasi itu mencakup pekerjaan MRO di lingkungan PLN, pengembangan produk kelistrikan, peningkatan TKDN, alih teknologi, serta pengembangan kompetensi SDM.
Pusat MRO tersebut menyasar pasar Asia Pasifik, sejalan dengan upaya pemerintah menekan ketergantungan pada jasa pemeliharaan turbin dari luar negeri. Selama ini pekerjaan perawatan turbin skala besar umumnya dikerjakan vendor asing dengan biaya tinggi.
Ketiga kolaborasi itu menempatkan PLN Indonesia Power tidak hanya sebagai produsen listrik, tetapi juga pemain jasa ketenagalistrikan di kawasan. Bagi investor, kombinasi proyek energi terbarukan berbiaya efisien dan layanan MRO bernilai tambah menjadi indikasi arah bisnis perseroan yang kian terdiversifikasi.