Bahasa Sawai di Halmahera Tengah Mulai Ditinggalkan Anak Muda, 4 Tanda Pergeseran Menuju Terancam

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Sabtu, 26 September 2026 | 18:01:01 WIB
Warga Lelilef Sawai, Lambertus Nufu (63), mengajak anak-anaknya berbicara dalam bahasa Sawai di rumah.

HALMAHERA TENGAH — Warga Lelilef Sawai, Lambertus Nufu (63), masih rutin mengajak anak-anaknya berbicara dalam bahasa Sawai di rumah. Namun ia mengaku banyak kosakata yang ia ucapkan tak lagi dimengerti.

"Tidak usah jauh-jauh, di rumah saya saja, anak-anak sudah tidak mengerti bahasa Sawai," kata Lambertus, awal Agustus 2026.

Ia mencontohkan kata goru untuk ikan bulana, bli untuk jahe, taef untuk warna kuning, dan woy untuk air. Istilah-istilah itu, menurut dia, semakin jarang dikenal anak muda saat ini.

Bahasa Indonesia Ambil Alih Ruang di Sekolah hingga Perdagangan

Gejala serupa terlihat di Lelilef Waibulen. Rahma, 68 tahun, menyebut anak-anak di desanya lebih banyak memakai bahasa Indonesia dalam percakapan harian.

"Anak-anak sekarang sudah tidak tahu. Mereka cuma pakai bahasa Indonesia. Apalagi di Waibulen ini banyak penduduk campuran," ujarnya.

Bahasa Indonesia kini mendominasi pendidikan, administrasi, pekerjaan, hingga komunikasi dengan pendatang. Ruang penggunaan bahasa Sawai menyempit ke lingkungan keluarga saja.

Pertambangan Disebut Bukan Penyebab Tunggal

Akademisi bahasa di Maluku Utara, Agus Hj Jamal, menilai pergeseran bahasa Sawai tidak semata dipicu aktivitas pertambangan. Industrialisasi, menurutnya, memperkuat perubahan yang sudah berlangsung lewat mobilitas penduduk dan terbentuknya ruang sosial baru.

"Pertambangan memang tidak diposisikan sebagai satu-satunya penyebab kepunahan bahasa Sawai, tapi sebagai faktor yang memperkuat faktor-faktor lain yang sudah ada sebelumnya," kata Agus.

Ia menyoroti penggunaan bahasa Indonesia yang kini juga dipakai dalam komunikasi antarsesama masyarakat Sawai. Kondisi itu dinilai mempercepat pergeseran fungsi bahasa daerah.

"Persoalannya bukan pada keberadaan bahasa Indonesia atau pekerja pendatang itu sendiri, tetapi pada ketidakseimbangan fungsi dan ruang penggunaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Sawai," ujar Agus.

4 Tanda Bahasa Sawai Menuju Kondisi Terancam

Agus menyebut empat tanda pergeseran bahasa Sawai yang perlu diwaspadai:

  • Kesenjangan bahasa antargenerasi
  • Menurunnya penggunaan di kalangan anak muda
  • Melemahnya pewarisan bahasa dalam keluarga
  • Menyempitnya ruang penggunaan bahasa Sawai

Dari empat tanda itu, Agus menyimpulkan bahasa Sawai belum punah, tetapi sudah berada di jalur menuju kondisi terancam.

"Bahasa Sawai belum punah, tetapi menunjukkan gejala menuju kondisi terancam," katanya.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: cermat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top