TERNATE — Dinas Kesehatan Kota Ternate menyiagakan posko layanan kesehatan di sejumlah puskesmas terdekat guna menangani warga yang terdampak paparan asap. Langkah itu diambil menyusul kebakaran hutan, lahan, dan Tempat Pembuangan Akhir sampah yang berpotensi menurunkan kualitas udara di Ternate.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate dr. Fathiyah Suma menjelaskan bahwa asap hasil pembakaran mengandung partikulat halus seperti PM2,5 dan PM10 serta berbagai gas pencemar lain. Kandungan itu membuat asap mudah terhirup masuk ke paru-paru.
Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk kesehatan penderita asma dan penyakit pernapasan kronis.
"Asap hasil pembakaran sampah mengandung zat iritan dan partikel mikroskopis yang mudah terhirup masuk ke paru-paru. Jika terpapar terus-menerus, hal ini berisiko memicu gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan," ujar Fathiyah, Senin, 12 Oktober 2026.
Kelompok rentan yang dimaksud mencakup anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan. Mereka diminta lebih waspada ketika kondisi udara dipenuhi asap.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah ketika udara dipenuhi asap. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus.
Warga juga diminta menutup pintu dan jendela rumah saat asap mulai masuk ke lingkungan tempat tinggal. Langkah sederhana itu dinilai efektif menekan paparan partikel ke dalam ruangan.
Apabila mengalami gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Dinkes menegaskan penanganan cepat dibutuhkan agar gejala tidak berkembang lebih berat.
Dinkes Kota Ternate menyiagakan posko layanan kesehatan di puskesmas terdekat. Posko itu disiapkan menangani warga yang mengalami gejala akibat paparan asap.
"Kami mengimbau masyarakat untuk segera mendatangi Posko Layanan Puskesmas terdekat jika mengalami gejala seperti sesak berat, sulit bernapas, nyeri dada, pusing berat, atau jika kondisi kesehatan semakin memburuk. Petugas medis siap memberikan penanganan cepat," pungkasnya.
Fathiyah menyatakan pemantauan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat akan dilakukan secara berkala. Pemantauan itu menjadi dasar bagi Dinkes untuk menentukan langkah lanjutan.
Pemerintah Kota Ternate juga melakukan koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan titik kebakaran sekaligus meminimalkan dampak pencemaran udara. Koordinasi itu melibatkan sejumlah instansi terkait di lingkungan pemkot.
Bagi warga yang belum mengalami gejala, Dinkes tetap menyarankan kewaspadaan dini. Mengurangi paparan di luar ruangan dan memantau kondisi tubuh menjadi cara paling sederhana menghindari risiko gangguan pernapasan.