TERNATE — Pertemuan di teras rumah Taufik Adnan Amal di Kampung Makassar, Ternate, itu semula hanya janji ringan. Mely Amal mengabari bahwa "Ka Acep bilang ke rumah setelah isa". Murid Tonirio, dosen FUAD IAIN Ternate, datang dan mendapati Taufik sedang duduk merokok bersama tamunya. Itu pertemuan kedua Tonirio dengan Taufik.
Taufik memperkenalkan tamunya. "Ini Murid," katanya. Tonirio menyebut namanya sendiri, "Samsu Rizal Panggabean!" Samsu Rizal terkejut dan balik bertanya, "Kok tahu?" Tonirio menjawab bahwa ia pernah melihat foto profil di buku yang ditulis bersama Taufik.
Taufik menawarkan teh atau kopi. Tonirio memilih air mineral, lalu mengeluarkan rokok. Tiga orang itu merokok dengan merek berbeda. Samsu Rizal berusaha mencairkan suasana dengan bercerita soal kebiasaannya singgah di rumah itu setiap ke Ternate.
"Kalau ke Ternate, saya selalu turun di sini. Mama (ibunya Taufik) bisanya menyiapkan sayur lilin ola ola. Rasanya sangat enak," ujar Samsu Rizal.
Kata "ola ola" membuat Tonirio terhentak. Ia tahu istilah itu berasal dari bahasa Galela, dan Samsu Rizal mengucapkannya dengan fasih. Ola ola merujuk pada sayur atau ikan yang dimasak pakai santan. Pisang, kasbi, dan beras yang dimasak santan disebut "si dodiigo".
Tonirio lalu menyebut bahwa "sayur lilin" adalah bahasa Melayu pasaran di Maluku Utara. Dalam bahasa Galela, sayur itu punya nama sendiri. Samsu Rizal menantang Taufik, "Nyong, apa nama sayur lilin dalam bahasa Galela?" Taufik berkelit, "Saya tidak tahu." Keduanya lantas bertanya hampir serempak kepada Tonirio.
"Dodilibu," jawab Tonirio santai.
Samsu Rizal tidak berhenti di situ. Ia bertanya apakah arti lughawi dodilibu sama dengan sayur lilin secara bahasa. Taufik menjawab sambil bercanda bahwa kemungkinan orang Maluku Utara menyebutnya sayur lilin karena bentuk dan warnanya mirip lilin. "Saya tidak tahu apa arti dodilibu," lanjut Taufik.
Tonirio kemudian menerjemahkan. Dodilibu berasal dari kata "tilibu", artinya "bunting". Pohon dodilibu serupa tebu. Buahnya keluar dari pucuk atas, kadang bercabang, dan buah dari cabang ukurannya lebih kecil. Ujung atas batang membesar sebelum buah keluar. Keadaan itu disebut "da tilibu", artinya "dia hamil".
Istilah serupa berlaku untuk padi. Ketika ujung batang atas padi membesar sebelum buahnya keluar, orang Galela menyebutnya "o'tamo da tilibu", padi sudah bunting. Tilibu juga berlaku untuk perempuan dan hewan. Perempuan hamil disebut "ami tilibu", dengan bahasa halus "mo rohe" yang berarti "dia berbadan".
Samsu Rizal berseru kepada Taufik, "Nyong, ini aneh, dan menarik. Adakah hubungan tilibu, dodilibu, tamo da tilih, sapi da tilibu, ami tilibu dengan relasi gender dalam rumah tangga?"
Pertanyaan itu membuat Tonirio seakan membeku. Ia tidak menduga Samsu Rizal berpikir sejauh itu. Sambil mengisap asap rokok dalam-dalam, Tonirio menyiapkan alibi seandainya ditanya lagi, bahwa ia orang bodoh teori ilmu sosial dan jawabannya harus dicari sendiri. Untungnya, Samsu Rizal tidak menginterogasi lebih dalam.
Sejak itu Tonirio hanya menjadi penonton. Taufik dan Samsu Rizal berdiskusi soal dodilibu dan relasi gender. Samsu Rizal bercerita tentang kesannya selama penelitian lapangan di kamp-kamp pengungsi. Ia menangkap kecenderungan para laki-laki, sebagai anak atau suami, lebih mendengarkan perempuan. Mertua laki-laki bahkan lebih menaruh hormat pada menantu perempuan dibandingkan sikap mereka terhadap anak dan menantu laki-lakinya.
Tonirio berharap keduanya mengutip ayat Alquran atau hadis Nabi agar ia bisa nimbrung. Namun Taufik dan Samsu Rizal justru menyelam ke kedalaman teori ilmu sosial. Setelah berlayar jauh dan berselancar dengan teori-teori sosial, salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan yang masih diingat Tonirio secara verbatim.