HALMAHERA — Kekeringan yang melanda sebagian wilayah Maluku Utara sejak empat bulan terakhir memicu kebakaran hutan dan lahan. Api tidak hanya menghanguskan vegetasi hutan, tetapi juga merembet ke kebun-kebun kelapa milik warga di Halmahera. Bagi petani, pohon kelapa yang terbakar bukan sekadar kerugian tanaman semusim.
Kelapa membutuhkan waktu panjang untuk kembali produktif. Ketika kebun terbakar, yang hilang bukan hanya pendapatan hari ini, melainkan juga sumber kesejahteraan untuk tahun-tahun mendatang. Biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga petani ikut terancam.
Sejarah pembentukan Provinsi Maluku Utara tidak hanya dibangun lewat gerakan politik dan diplomasi. Ada pula gerakan ekonomi rakyat yang menopangnya, dengan kelapa dan kopra sebagai salah satu simbol penting.
Konsorsium petani kelapa dari Halmahera pernah menghimpun 1.000 ton kopra sebagai bagian dari dana perjuangan pembentukan provinsi. Kopra saat itu menjadi logistik perjuangan, wujud solidaritas ekonomi, sekaligus bukti bahwa cita-cita politik bisa tumbuh dari kerja keras petani di kebun-kebun kelapa.
Dari kebun rakyat, hasil kelapa dikumpulkan. Dari kerja keras para petani, tumbuh kekuatan untuk mewujudkan sebuah provinsi. Pesan historis itulah yang semestinya menjadi salah satu pijakan pembangunan Maluku Utara hari ini.
Memasuki usia 27 tahun Provinsi Maluku Utara, pertanyaan mendasar muncul kembali: bagaimana nasib komoditas yang dahulu ikut menopang perjuangan pembentukan provinsi ini?
Kelapa masih menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga petani di Maluku Utara, bersama cengkeh dan pala. Dari perkebunan rakyat inilah ekonomi keluarga dibangun, anak-anak disekolahkan, dan generasi muda memperoleh kesempatan tumbuh serta mengabdikan diri di berbagai bidang.
Namun besarnya peran kelapa tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petaninya. Ketika harga kopra berada pada tingkat rendah, petani menjadi kelompok paling rentan menanggung beban. Biaya produksi, tenaga kerja, transportasi antar pulau, dan panjangnya rantai pemasaran menggerus pendapatan mereka.
Dalam dua tahun terakhir, sejumlah pabrik pengolahan buah kelapa mulai beroperasi dan memberikan daya hidup baru bagi petani di Halmahera. Kehadiran pabrik-pabrik itu membuka alternatif pasar bagi hasil kebun dan harapan memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.
Pengakuan itu datang dari petani yang merawat kebun kelapa keluarga di Malifut. Pabrik pengolahan disebut memberi angin segar setelah bertahun-tahun petani bergantung pada rantai pemasaran kopra yang panjang.
Harapan yang baru tumbuh itu kini berhadapan dengan situasi paradoks. Kekeringan dan kebakaran lahan mengancam kebun-kebun yang menjadi tumpuan hidup petani, tepat ketika pasar hasil kelapa mulai membaik.
Bagi petani kelapa, terbakarnya kebun sama artinya dengan terbakarnya sebagian harapan generasi masa depan. Itu berarti hilangnya sumber penghidupan yang dibangun bertahun-tahun, terancamnya biaya pendidikan anak, dan menyusutnya harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Pohon kelapa tidak bisa segera menggantikan pohon yang hangus. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum tanaman kembali produktif dan menghasilkan kopra yang bisa dijual.
Dalam perspektif sejarah, peristiwa ini menyimpan makna lebih dalam. Jika dahulu kopra menjadi salah satu simbol solidaritas ekonomi rakyat dalam perjuangan pembentukan Provinsi Maluku Utara, maka hari ini kebun-kebun kelapa yang terbakar menjadi ancaman terhadap salah satu penopang historis kehidupan daerah ini.
Secara simbolik, terbakarnya kebun kelapa dapat dimaknai sebagai peringatan bahwa sejarah perjuangan Maluku Utara tidak cukup hanya dikenang. Sejarah itu harus dijaga melalui keberpihakan nyata kepada rakyat yang menjadi bagian dari sejarah tersebut.
Menyelamatkan kebun kelapa berarti menyelamatkan sumber penghidupan petani. Memulihkan perkebunan rakyat berarti menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga di Maluku Utara. Memberi perhatian serius terhadap nasib kelapa berarti merawat salah satu warisan perjuangan yang ikut mengantarkan Maluku Utara menjadi sebuah provinsi.
Jika dahulu kopra ikut menghidupkan perjuangan untuk melahirkan Provinsi Maluku Utara, maka hari ini menyelamatkan kelapa adalah bagian dari perjuangan menjaga masa depan provinsi ini.