TERNATE — Riset kualitas air yang digelar WALHI Maluku Utara bersama tim peneliti berlangsung selama lima bulan, Mei hingga September 2026. Pengambilan sampel mencakup air laut, sungai, air terjun, dan sumur warga di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan.
Hasil riset didesiminasikan dalam laporan resmi bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun WALHI ke-46. Pemaparan digelar di Coffe Sua Benteng Orange, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate, Kamis (15/10/2026).
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Maluku Utara Astuti N Kilwouw menyebut pengujian mencakup empat parameter logam berat: Kromium Heksavalen (Cr(VI)), Merkuri (Hg), Kobalt (Co), dan Nikel (Ni).
Sampel air diambil di 6 titik perairan pesisir laut, terdiri dari 2 titik di timur, 2 di tengah, dan 2 di barat. Selain itu, 2 titik di Sungai Akelamo, 2 titik di air terjun, serta 2 sumur warga di ujung timur dan barat pemukiman.
Standar baku mutu yang dipakai sebagai pembanding adalah Kepmen LH Nomor 51 Tahun 2004 untuk air laut, PP Nomor 22 Tahun 2021 untuk air terjun (danau), dan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 untuk air sumur.
Konsentrasi Cr(VI) pada sampel air laut AL 1–AL 6, air sungai SN 1–SN 2, dan air sumur SM 1–SM 2 dilaporkan <0,005 mg/L. Sementara sampel air danau menunjukkan angka jauh di atasnya, yakni 1,04 mg/L pada AT 1 dan 0,699 mg/L pada AT 2.
"Berdasarkan hasil riset itu Astuti menyampaikan, temuan utama dalam pengujian sampel air di Desa Kawasi terdapat pada parameter Cr(VI) dalam sampel air danau," demikian keterangan dalam pemaparan tersebut.
Nilai acuan yang digunakan untuk parameter Cr(VI) adalah 0,05 mg/L. Kedua hasil pada sampel air danau itu menunjukkan konsentrasi yang melebihi nilai acuan.
Zat kimia Cr(VI) bersifat karsinogenik dan dapat memicu kanker pada jaringan hidup. Sampel air laut, air sungai, dan air sumur tidak menunjukkan parameter yang melebihi nilai acuan numerik dalam evaluasi.
Parameter Hg, Co, dan Ni juga tidak menunjukkan konsentrasi melebihi nilai acuan pada sampel yang memiliki nilai pembanding. Khusus Co pada sampel air laut dan air sumur, hasil pengujian tetap dilaporkan, tetapi tidak dilakukan perbandingan numerik karena tidak tersedia nilai acuan Co pada masing-masing dasar hukum.
"Hasil analisis terhadap parameter Hg, Co, dan Ni menunjukkan nilai yang relatif seragam pada seluruh kelompok sampel. Konsentrasi Hg pada seluruh sampel berada pada nilai <0,00005 mg/L, sedangkan Co dan Ni masing-masing pada nilai <0,001 mg/L," jelas Astuti.
Ia menambahkan bahwa tanda "<" menunjukkan konsentrasi parameter berada di bawah batas nilai yang dapat dilaporkan metode pengujian laboratorium. Tanda itu tidak berarti parameter tersebut memiliki konsentrasi nol.
Astuti menyebut air terjun di kawasan tersebut merupakan sumber air bersih yang dialirkan ke bak penampungan dan mengalir ke rumah-rumah warga. Titik koordinatnya berada di 1°32'34.8"S 127°24'55.3"E.
"Titik Kordinat Air Terjun 1°32'34.8?S 127°24'55.3?E. Air Terjun ini merupakan sumber air bersih yang dialirkan ke bak penampungan dan mengalir ke rumah-rumah warga," jelas Astuti.
Guru besar Pro.Dr. Muhammad Aris, S.Pi., M.P yang hadir secara daring menyampaikan pernah melakukan riset bersama timnya di Pulau Obi pada 2019. Menurutnya kondisi kualitas perairan waktu itu sangat buruk.
Aris menjelaskan riset dilakukan untuk membuka fakta pembenaran berdasarkan hasil analisis secara ilmiah. Ia membenarkan hasil penelitian WALHI Maluku Utara.
Dalam pemaparan yang sama, WALHI Maluku Utara menyampaikan bahwa warga Desa Kawasi menghadapi ancaman, intimidasi, dan upaya kriminalisasi oleh aparat negara di tengah kerusakan lingkungan yang mereka alami.
WALHI mencatat sepanjang 2025 ada lima warga yang mendapatkan surat panggilan dari Polres Halmahera Selatan karena melakukan aksi demonstrasi terhadap pihak perusahaan. Pemaparan juga menyinggung peristiwa pada September 2025.
Hasil analisis WALHI Maluku Utara menegaskan bahwa temuan Cr(VI) pada sampel air danau AT 1 dan AT 2 merupakan hasil perbandingan data laboratorium dengan nilai acuan. Temuan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan sumber atau penyebab keberadaan Cr(VI).
Untuk mengetahui kondisi dan pola kandungan Cr(VI) secara lebih menyeluruh, WALHI merekomendasikan pengujian atau pemantauan lebih lanjut di kawasan tersebut.