Pencarian

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Bertahan hingga Akhir Oktober 2026

Jumat, 18 September 2026 • 13:20:02 WIB
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Bertahan hingga Akhir Oktober 2026

MALUKU UTARA — BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026, dengan 437 Zona Musim atau 48,77 persen luas daratan berpotensi mengalami musim kering lebih panjang dari biasanya. Fenomena El Nino kategori sangat kuat menjadi pemicu utama, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah. Kondisi ini menuntut penguatan mitigasi sebelum periode musim hujan tiba.

Musim kemarau berpotensi lebih panjang pada 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia. Angka itu menunjukkan dampak kekeringan tidak merata, tetapi menjangkau hampir separuh daratan nasional.

Pemicu Utama: El Nino Sangat Kuat

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat. Fenomena tersebut masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga beberapa pekan ke depan.

"Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026," kata Faisal dalam keterangan di laman resmi BMKG, Kamis (17/9).

Faisal menambahkan upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat hingga memasuki periode musim hujan. Sejumlah daerah saat ini masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Curah Hujan Rendah hingga Dasarian II Oktober

Pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0-150 mm per dasarian. Pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih terbatas.

Kondisi itu berkaitan dengan El Nino kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Alhasil, kondisi kering berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah.

El Nino dan IOD Positif Berpotensi Bertemu

El Nino yang berkembang kuat di Samudra Pasifik berpotensi bersinggungan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia sekitar bulan September ini. Peneliti memperkirakan pertemuan kedua anomali iklim tersebut dapat mengacaukan cuaca global dan regional.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan 90 persen kemungkinan tahun 2026 menghasilkan El Nino terkuat dalam 150 tahun terakhir, bertepatan dengan IOD positif. IOD sendiri merupakan perbedaan suhu antara Samudra Hindia tropis bagian barat dan timur yang memengaruhi curah hujan serta angin di negara-negara sekitar Samudra Hindia.

Ahli pemodelan iklim Institut Meteorologi Tropis India, Ankur Srivastava, menjelaskan sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu El Nino yang muncul lebih lambat di musim panas India, seperti yang terjadi tahun ini.

"Himalaya dan kaki bukitnya tetap sangat rentan terhadap curah hujan dan tanah longsor yang berdampak tinggi, bahkan di musim yang lebih kering dari rata-rata," kata Srivastava, melansir Nature, Selasa (8/9).

Dampak ke Asia Selatan dan Pelajaran untuk Indonesia

Srivastava menyebut dampak pertemuan El Nino dan IOD positif di Asia Selatan bergantung pada kekuatan masing-masing fenomena dan keberadaan fenomena cuaca lain pada periode yang sama. Monsun India sempat mengalami defisit curah hujan akibat El Nino, khususnya selama Juli dan Agustus.

Jika IOD positif berkembang cukup kuat, fenomena itu dapat memompa kelembapan dan menetralkan defisit curah hujan di akhir musim. Namun, bila IOD positif tidak menguat selama akhir musim panas, India berisiko mengalami periode kekeringan berkepanjangan.

Departemen Meteorologi India mengonfirmasi efek El Nino telah mendominasi sejak awal monsun. Potensi pemulihan dari IOD positif mungkin terbatas pada akhir musim saja.

El Nino yang sangat kuat juga dapat mengakibatkan jeda monsun yang panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor jika hujan intensitas tinggi mendadak turun.

Bagi Indonesia, kombinasi El Nino kuat dan potensi IOD positif menjadi peringatan dini bagi sektor pertanian, pengelolaan air, dan mitigasi karhutla. BMKG menekankan penguatan kesiapsiagaan hingga musim hujan tiba sebagai langkah kunci menghadapi sisa periode kemarau 2026.

Follow kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks