TERNATE — Pembagian masker menyasar warga yang setiap hari beraktivitas di ruang terbuka, termasuk pengendara yang melintas di persimpangan Bastiong. Pakativa menilai kelompok itu paling terpapar partikel halus dari asap karhutla.
Zafira menjelaskan, masker kain dipilih karena bisa dipakai berulang, bukan sekali buang. Menurut dia, langkah tersebut sifatnya sementara untuk mengurangi paparan asap sembari mendorong kesadaran warga terhadap pencemaran udara.
Mengapa AQI Ternate Jadi Perhatian
Zafira menyebut kualitas udara Kota Ternate menjadi salah satu alasan kegiatan itu digelar. Informasi yang dirujuk dari AccuWeather sebelumnya menunjukkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Ternate berada di angka 153, masuk kategori tidak sehat.
Angka itu, kata dia, memperkuat alasan pembagian masker dilakukan di titik keramaian. Warga yang melintas di lampu merah Bastiong bisa langsung menerima masker tanpa syarat.
"Asap karhutla bukan sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Karena itu, kami menginisiasi pembagian masker gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak," ujar Zafira.
Partikel PM2.5 dan Kelompok Paling Rentan
Menurut Zafira, asap karhutla mengandung partikel halus, terutama PM2.5, serta gas dan senyawa berbahaya. Partikel itu bisa masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.
Sebagian polutan juga dapat masuk ke aliran darah dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang bekerja di luar ruangan disebut sebagai kelompok paling rentan.
"Pembagian masker ini bukan sekadar aksi berbagi, tetapi juga seruan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan dan lingkungan. Kami ingin mengingatkan bahwa udara bersih adalah hak kita bersama," katanya.
Masker Hanya Perlindungan Sementara
Zafira menegaskan, penggunaan masker bukan solusi utama. Penanganan karhutla menurutnya harus disertai upaya pencegahan kebakaran, perlindungan ekosistem, dan langkah nyata mengendalikan pencemaran udara.
"Kita tidak bisa hanya berfokus pada dampak asap ketika kebakaran terjadi. Pencegahan dan perlindungan lingkungan harus menjadi perhatian bersama agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi ancaman kesehatan akibat karhutla," lanjutnya.
Melalui aksi Pakativa Peduli Karhutla, ia berharap kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan meningkat. Pakativa juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga lingkungan dan mendukung upaya penanganan karhutla.
"Hutan terbakar, udara tercemar, kesehatan terancam. Jangan biarkan krisis ekologis menjadi krisis kesehatan bagi kita semua," tutup Zafira.