Pencarian

Sekda Ternate Resmikan Studio Radio Gemusba, Fokus Siaran Pelestarian Budaya dan Sejarah Lokal

Sabtu, 17 Oktober 2026 • 13:01:31 WIB
Sekda Ternate Resmikan Studio Radio Gemusba, Fokus Siaran Pelestarian Budaya dan Sejarah Lokal
Sekda Ternate meresmikan studio Radio Gemusba yang berfokus pada pelestarian budaya dan sejarah lokal.

TERNATE — Rizal Marsaoly menilai kehadiran Radio Gemusba menjadi momentum membangun kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam menjaga warisan budaya daerah. Menurutnya, radio tersebut punya karakter dan identitas tersendiri karena menjadikan pelestarian budaya sebagai fokus utama siaran. Studio itu juga diproyeksikan sebagai ruang bagi generasi muda mengembangkan kreativitas dan menyebarkan informasi edukatif.

Karakter Siaran yang Dibedakan dari Radio Lain di Ternate

Rizal menyebut Radio Gemusba hadir dengan pendekatan berbeda dibanding radio lain yang sudah beroperasi di Ternate. Perbedaan itu, katanya, terletak pada karakter, ciri khas, dan identitas yang dibangun organisasi.

"Radio boleh banyak di Ternate. Tetapi, kalau hari ini Gemusba hadir dengan radio yang berbeda, punya karakter, ciri khas, dan identitas, ini menjadi ruang bagi generasi muda Sultan Babullah untuk berbagi informasi, menghadirkan hiburan sesuai kearifan lokal, serta menyampaikan berbagai bentuk edukasi," ujar Rizal.

Ia berharap Radio Gemusba tidak berhenti pada sajian hiburan. Siaran dinilai perlu memperkenalkan sejarah lokal, tradisi masyarakat, bahasa daerah, dan nilai-nilai kebudayaan kepada warga, terutama generasi muda.

Sinergi dengan Dinas Kebudayaan hingga Usulan Program Podcast

Untuk mendukung fokus siaran itu, Rizal mendorong pengelola Radio Gemusba membangun sinergi dengan Pemerintah Kota Ternate melalui organisasi perangkat daerah. Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata disebut sebagai mitra utama.

Kolaborasi itu dapat diwujudkan lewat program siaran rutin yang mengangkat sejarah, tradisi, dan berbagai potensi kebudayaan Ternate. Rizal juga mengusulkan pengembangan program podcast dengan menghadirkan narasumber kompeten untuk membahas isu kebudayaan, sejarah, dan pembangunan daerah.

"Saya berharap ada program-program yang bisa kita sinergikan dengan Dinas Kebudayaan. Termasuk model podcast, siapa narasumbernya, serta isu-isu apa yang bisa kita angkat di Radio Gemusba," katanya.

Pengelola juga diminta memetakan segmentasi pendengar dan menentukan target audiens. Langkah itu diperlukan agar program siaran sesuai dengan karakter dan tujuan radio.

Gemusba Berakar dari Pemuda Baabullah Era 1968

Ketua Gemusba Jou Ngofa Kaicil Ismuul Sujud menegaskan peresmian gedung sekretariat dan studio radio bukan sekadar pembukaan fasilitas baru. Menurutnya, langkah itu menegaskan komitmen organisasi menjaga adat, sejarah, kebudayaan, dan Kesultanan Ternate.

Gemusba memiliki akar sejarah sejak 1968, ketika kakek Sultan Ternate ke-48, almarhum Sultan Haji Mudaffar Syah, membentuk Pemuda Baabullah sebagai wadah pembinaan generasi muda. Pada 1998, organisasi tersebut diperbarui dan berganti nama menjadi Generasi Muda Sultan Babullah hingga sekarang.

Ismul menyebut sejarah itu bukan hanya kebanggaan, tetapi tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui karya dan pengabdian nyata.

"Gedung sekretariat ini harus menjadi rumah bagi gagasan, pembinaan, serta konsolidasi organisasi. Sementara studio Radio Gemusba harus menjadi ruang untuk menyebarkan informasi yang mendidik, memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Ternate, serta memberi tempat bagi kreativitas generasi muda," ujarnya.

Ukuran Keberhasilan Organisasi Bukan Kemegahan Bangunan

Ismul mengajak seluruh pengurus dan anggota Gemusba menjaga fasilitas tersebut serta mengelolanya secara profesional. Harapannya, keberadaan gedung dan studio memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak diukur dari kemegahan bangunan, melainkan dari kualitas generasi yang dibentuk, nilai-nilai yang dijaga, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.

"Keberhasilan organisasi bukan diukur dari seberapa megah bangunannya, melainkan dari kualitas generasi yang dibentuk, nilai yang dijaga, dan manfaat yang bisa kita berikan kepada masyarakat luas," kata Ismul.

Ia menegaskan generasi muda tidak cukup hanya mewarisi nama besar Sultan Babullah. Keberanian, integritas, visi, dan semangat pengabdian dinilai harus diteladani dalam menghadapi tantangan zaman.

Rizal menambahkan, pelestarian budaya bukan tanggung jawab pemerintah semata. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat dibutuhkan, termasuk generasi muda, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan media penyiaran. Ia juga mengingatkan pengelola Radio Gemusba menjaga profesionalisme dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi, serta terus membangun kemitraan dengan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas kebudayaan, dan organisasi masyarakat.

Follow kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: halmaherapost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks