Pencarian

Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Benteng Bersejarah sebagai Ruang Publik Anak Muda

Kamis, 27 Agustus 2026 • 10:42:31 WIB
Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Benteng Bersejarah sebagai Ruang Publik Anak Muda
Rakernas JKPI di Ternate diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan benteng bersejarah sebagai ruang publik kreativitas anak muda.

TERNATE — Deru kendaraan dan wajah kota yang terus berubah tak mampu menghapus bisikan masa lalu dari balik benteng batu tua, dinding keraton kesultanan, hingga aroma cengkeh dan pala di udara. Ternate bukan sekadar titik geografis di Maluku Utara, melainkan bentangan memori hidup dari peradaban bahari dan diplomasi rempah yang pernah mengguncang dunia.

Tantangan terbesarnya kini adalah mencegah narasi sejarah tenggelam oleh pembangunan fisik yang berjiwa kaku. Kota sering kali dibangun hanya berbasis efisiensi ekonomi, sementara identitas historisnya perlahan terdesak ke pinggiran.

Benteng Bersejarah Disulap Jadi Ruang Kreativitas

Sejumlah benteng legendaris seperti Toloko, Oranje, Kastela, Kota Janji, dan Kalamata tidak boleh dibiarkan menjadi struktur mati yang terasing dari permukiman warga. Bangunan dan kawasan cagar budaya tersebut harus terus dihidupkan kembali sebagai ruang publik yang penuh napas kehidupan.

Ide yang mengemuka, benteng dan kawasan bersejarah dapat menjadi tempat diskusi anak muda, pusat aktivitas seni, ruang pertunjukan, hingga laboratorium edukasi sejarah di ruang publik. Dengan begitu, sejarah tidak hanya menjadi benda yang dilihat, tetapi pengalaman yang dihidupkan bersama.

Arsitektur Kota Harus Berdialog dengan Sejarah dan Alam

Jiwa kota juga harus tercermin dalam perencanaan tata ruang yang berkarakter. Arsitektur perkotaan Ternate idealnya mampu berdialog dengan sejarah dan alam sekitarnya.

Perlindungan terhadap kawasan pesisir, penghormatan terhadap zona Kesultanan, serta kelestarian lereng Gunung Gamalama merupakan wujud nyata dari penghormatan terhadap identitas kota. Tanpa perencanaan yang sensitif terhadap nilai sejarah, Ternate berisiko kehilangan keunikannya dan berujung menjadi kota seragam yang tumbuh tanpa karakter.

Generasi Muda Kunci Keberlanjutan Narasi Sejarah

Kunci utama keberlanjutan jiwa kota ini berada di tangan generasi muda. Anak-anak muda Ternate perlu diajak menerjemahkan kembali kisah-kisah diplomasi raja-raja Ternate, navigasi samudera, dan kearifan lokal ke dalam bahasa zamannya.

Upaya ini dapat dilakukan melalui media digital, industri kreatif, literasi, maupun karya seni modern. Narasi sejarah tidak akan berdaya jika hanya tersimpan dalam arsip atau berhenti pada penuturan para sesepuh. Sejarah harus terus diceritakan, ditafsirkan, dan dihidupkan oleh generasi baru.

Rakernas JKPI: Sejarah sebagai Modal Pembangunan

Dalam konteks inilah momentum Rakernas JKPI di Ternate memiliki arti penting. Agenda ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi penguat kesadaran bahwa sejarah merupakan modal pembangunan kota.

Ternate memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa warisan sejarah dan budaya bukan beban, melainkan kekuatan. Kota ini tidak harus memilih antara modernisasi dan sejarah. Keduanya dapat berjalan bersama ketika pembangunan memiliki kesadaran terhadap identitas.

Menembus waktu di Ternate adalah tentang menghubungkan akar masa lalu dengan pijakan masa depan. Ketika sejarah dihidupi sebagai identitas dan pemandu arah pembangunan, Ternate akan tumbuh menjadi kota yang tangguh—kota yang tidak hanya berdiri tegak secara fisik, tetapi juga memiliki jiwa yang bergetar kuat di hati setiap warganya.

Follow kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: halmaherapost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks