MALUKU UTARA — Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan melaporkan terjadi penambahan 412 titik panas dalam sehari di Kalimantan Tengah. Sebelumnya, jumlah titik api yang terdeteksi mencapai 4.259 titik, dan kini bertambah signifikan.
"Di Kalimantan Tengah titik api sebesar 93 titik api, tetapi titik panas meningkat sebesar 412 sehingga titik panas menjadi 4.359 titik," ujar Berton dalam konferensi pers, Jumat (28/8).
Pemadaman Terkonsentrasi di Pulang Pisau dan Seruyan
Data yang dihimpun BNPB bersumber dari sistem SiPongi Kementerian Kehutanan yang dipantau sejak pukul 00.00 hingga 23.59 WIB pada 27 Agustus 2026. Dari total lahan terbakar seluas 7.634 hektare, operasi pemadaman darat saat ini difokuskan pada dua wilayah dengan luasan terdampak terbesar.
Upaya pemadaman dilaporkan telah menjangkau lahan seluas 257 hektare di Kabupaten Pulang Pisau dan 10 hektare di Kabupaten Seruyan. Operasi ini mencakup tiga langkah utama: pemadaman api, pembatasan penjalaran api, serta proses pendinginan lahan gambut yang berisiko memicu api kembali muncul.
Jarak Pandang Masih Normal, Operasi Udara Diperluas
Meski titik panas meningkat drastis, BNPB mencatat jarak pandang di Kalimantan Tengah masih berada dalam kategori normal, yakni sembilan kilometer. Kondisi ini memungkinkan operasi udara tetap berjalan efektif untuk membantu pemadaman dari ketinggian.
"Operasi karhutla ini dilakukan melalui operasi darat maupun operasi udara baik di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi," ungkap Berton.
Perluasan operasi udara dilakukan menyusul pola sebaran hotspot yang tidak hanya terkonsentrasi di satu provinsi. Enam provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi prioritas utama pengendalian karhutla pada pekan terakhir Agustus ini.
Risiko Kabut Asap dan Ancaman Kesehatan Masyarakat
Peningkatan jumlah hotspot di Kalimantan Tengah berpotensi memperparah kualitas udara jika angin membawa asap ke permukiman. Meski jarak pandang masih normal, tren kenaikan titik panas dalam 24 jam terakhir menjadi indikator bahwa potensi kabut asap lintas batas perlu diwaspadai.
BNPB mengimbau pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan dini, terutama di wilayah gambut yang sulit dipadamkan jika api sudah masuk ke lapisan dalam tanah. Masyarakat juga diminta melaporkan segera jika menemukan titik api baru di sekitar area permukiman maupun lahan pertanian.
Operasi pemadaman akan terus berlanjut hingga seluruh titik panas berhasil dijinakkan. BNPB memastikan koordinasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni, dan pemerintah daerah berjalan intensif untuk mencegah meluasnya area terdampak.