Pemandu Gunung Dukono Akui Lihat Dua WNA Singapura Tertimpa Batu

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:19:01 WIB
Pemandu Gunung Dukono memberikan kesaksian terkait insiden erupsi yang menimpa dua WNA Singapura.

TOBELO — Satreskrim Polres Halmahera Utara tengah mendalami keterangan Reza, pemandu yang membawa rombongan pendaki ke puncak Gunung Api Dukono saat erupsi terjadi. Insiden tersebut mengakibatkan dua warga negara asing (WNA) asal Singapura dan satu warga lokal dilaporkan hilang dan diduga meninggal dunia.

Korban teridentifikasi sebagai Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27) dari Singapura, serta Enjel, seorang warga negara Indonesia. Hingga saat ini, keberadaan ketiga korban masih dalam proses pencarian oleh otoritas terkait setelah tertimbun material vulkanik.

Kesaksian Pemandu: Korban Tertimpa Batu Besar yang Masih Panas

Dalam pemeriksaan di kepolisian, Reza memberikan keterangan mengenai detik-detik saat material vulkanik meluncur dari kawah. Ia mengaku melihat langsung dua pendaki asal Singapura tersebut dihantam bongkahan batu besar yang terlontar akibat aktivitas erupsi yang tiba-tiba meningkat.

“Batunya besar sekali, Pak. Walaupun saya tidak mengecek denyut nadi, saya yakin 100 persen mereka meninggal, karena saya berdiri tepat di depan korban,” ujar Reza di hadapan penyidik Satreskrim Polres Halmahera Utara.

Reza menjelaskan bahwa batu yang menghantam para korban merupakan material yang baru saja keluar dari kawah sehingga suhunya masih sangat panas. Saat kejadian, ia sempat menyelamatkan diri dengan berlindung di balik batu besar lainnya untuk menghindari hujan material vulkanik yang beterbangan.

Sementara untuk korban bernama Enjel, Reza mengaku kehilangan jejak saat situasi menjadi kacau di puncak gunung. Ia sempat mencoba mencari ke arah puncak setelah rombongan lain berlari turun ke bawah, namun tidak menemukan keberadaan korban ketiga tersebut.

Polisi Telisik Dugaan Pelanggaran Radius Empat Kilometer

Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian serius pada aspek keselamatan dalam pendakian ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, rombongan tersebut diduga sengaja dibawa mendekati kawah meskipun status gunung berada pada level Waspada.

Otoritas setempat sebenarnya telah menetapkan larangan aktivitas dalam radius empat kilometer dari kawah aktif. Langkah pemandu yang tetap membawa wisatawan masuk ke zona bahaya ini menjadi titik berat penyelidikan kepolisian terkait unsur pidana kelalaian.

“Kami masih mendalami kasus ini. Jika terbukti terdapat unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, maka pemandu dapat dijerat pidana. Saat ini proses penyelidikan masih berlangsung,” tegas AKBP Erlichson Pasaribu.

Pihak kepolisian masih terus mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti lainnya untuk menentukan status hukum pemandu tersebut. Koordinasi dengan tim SAR dan instansi terkait juga terus dilakukan guna memastikan langkah penanganan lanjutan terhadap para korban di lokasi kejadian.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: cermat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top