MALUKU UTARA — NVIDIA mengumumkan RTX Spark, sebuah superchip yang menyatukan CPU Arm, GPU Blackwell, dan RAM 128 GB dalam satu paket. Chip ini akan menjadi otak dari laptop premium Windows on Arm dari Microsoft Surface, ASUS, Dell, HP, Lenovo, dan MSI yang dijadwalkan meluncur akhir 2025. Berbeda dari chip Snapdragon X yang RAM-nya terbatas 16 GB, RTX Spark menawarkan memori terpadu raksasa untuk menangani model AI besar.
Fitur paling menonjol dari RTX Spark adalah memori LPDDR5X sebesar 128 GB yang bisa diakses bersama oleh CPU dan GPU. NVIDIA menggunakan teknologi NVLink-C2C yang menyediakan bandwidth dua arah 600 GB/detik — 5 kali lebih cepat dari PCIe Gen5. Ini memungkinkan model AI besar berjalan sepenuhnya di perangkat tanpa harus membagi data antara RAM sistem dan VRAM.
Sebagai perbandingan, laptop dengan Snapdragon X yang hanya punya 16 GB RAM praktis tidak bisa menjalankan model AI yang membutuhkan memori besar. RTX Spark mengatasi hambatan itu dengan arsitektur memori terpadu yang mirip dengan smartphone modern, tapi dalam skala jauh lebih besar.
Dengan konfigurasi 20 inti, RTX Spark memiliki lebih banyak core dibanding prosesor smartphone mana pun. Namun, untuk tugas single-threaded, performanya mungkin masih di bawah Apple Silicon atau Qualcomm Oryon kelas atas. Keunggulan sebenarnya ada pada kemampuan multi-core dan efisiensi untuk beban kerja AI paralel.
Meski membawa GPU Blackwell, RTX Spark menggunakan RAM LPDDR5X dengan bandwidth efektif 273 GB/detik. Ini jauh lebih lambat dibanding GPU desktop dengan GDDR6/7 yang bisa mencapai 768 GB/detik. Konsekuensinya, performa gaming RTX Spark tidak akan menyamai GPU PC high-end. Chip ini lebih dioptimalkan untuk beban kerja AI dan kreator konten yang membutuhkan memori besar, bukan untuk gaming 4K 120 fps.
NVIDIA belum mengumumkan harga resmi RTX Spark. Namun, mengingat chip ini adalah versi lebih terjangkau dari DGX Spark yang dibanderol USD 4.700 (sekitar Rp 77,5 juta), RTX Spark kemungkinan besar tetap berada di segmen premium. Laptop dengan chip ini akan mulai muncul di pasar global pada akhir 2025, belum ada konfirmasi ketersediaan di Indonesia.
Bagi kreator konten, pengembang AI, dan profesional yang butuh menjalankan model bahasa besar atau aplikasi AI generatif secara lokal tanpa cloud, RTX Spark menawarkan solusi yang tidak bisa diberikan laptop biasa. Namun, gamer yang mencari performa grafis mentah tetap lebih cocok dengan laptop gaming GPU diskrit kelas atas.