MALUKU UTARA — Geliat pasar modal kembali memanas, tapi kali ini bukan nama-nama lama FAANG yang memimpin. Sebuah akronim baru mulai diperbincangkan di kalangan investor dan pelaku industri teknologi: MANGOS. Akronim ini merujuk pada Meta (atau Microsoft, tergantung siapa yang Anda tanya), Anthropic, Nvidia, Google, OpenAI, dan SpaceX.
Dari keenam nama tersebut, setengahnya dipastikan akan menggelar penawaran umum perdana (IPO) dalam jendela waktu yang sama. Keputusan ini menjadi ujian tekanan (stress test) bagi investor, valuasi perusahaan, dan ekspektasi publik terhadap perusahaan teknologi terbuka pada 2026.
SpaceX, Anthropic, dan OpenAI adalah tiga dari enam anggota MANGOS yang paling dinantikan langkah IPO-nya. Ketiganya mewakili sektor yang berbeda: antariksa, kecerdasan buatan (AI), dan AI generatif. Namun, valuasi masing-masing sudah melambung tinggi di pasar privat.
SpaceX, perusahaan roket milik Elon Musk, diperkirakan memiliki valuasi di atas USD 200 miliar (sekitar Rp 3.300 triliun). Sementara OpenAI, pengembang ChatGPT, dan Anthropic, pengembang model AI Claude, sama-sama dibanderol di kisaran puluhan miliar dolar AS. Pertanyaannya, akankah publik membeli saham mereka di harga setinggi itu?
Dalam episode terbaru podcast Equity milik TechCrunch, host Kirsten Korosec, Anthony Ha, dan Sean O'Kane mengupas tuntas apa arti momen IPO ini di luar angka-angka sensasional. Mereka membahas siapa pihak yang paling diuntungkan dari gelombang IPO ini, apakah investor institusi besar atau investor ritel biasa.
"IPO ini bukan sekadar soal perusahaan besar yang butuh dana segar. Ini soal bagaimana pasar menilai ulang sektor teknologi yang selama ini tumbuh di luar bursa," ujar Anthony Ha dalam podcast tersebut.
Podcast Equity tersedia di YouTube, Apple Podcasts, Overcast, Spotify, dan platform podcast lainnya. Pendengar juga bisa mengikuti akun X dan Threads @EquityPod untuk diskusi lebih lanjut.
Jika FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix, Google) dulu mendominasi era internet dan media sosial, MANGOS mewakili era baru: AI generatif, komputasi awan, dan eksplorasi antariksa. Meta dan Nvidia masih bertahan sebagai pemain utama, namun kehadiran Anthropic dan OpenAI menandai pergeseran fokus dari iklan digital ke kecerdasan buatan.
Bagi investor Indonesia, gelombang IPO ini bisa menjadi peluang diversifikasi portofolio ke sektor teknologi yang sebelumnya sulit diakses. Namun, volatilitas tinggi dan valuasi yang belum teruji di pasar publik tetap menjadi risiko utama.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal pasti IPO SpaceX, Anthropic, maupun OpenAI. Namun, spekulasi di kalangan analis memperkirakan proses penawaran perdana akan dimulai pada paruh kedua 2026, seiring dengan membaiknya kondisi pasar modal global.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan regulasi dari SEC (Otoritas Pasar Modal AS) dan laporan keuangan masing-masing perusahaan yang biasanya dirilis beberapa bulan sebelum IPO.