Air Laut Rendam Lima Desa di Sedati Sidoarjo, 2.000 Hektare Tambak Terendam Rob

Penulis: Dedi Supriadi  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 15:06:01 WIB
Banjir rob rendam lima desa di Sedati, Sidoarjo, menyebabkan 2.000 hektare tambak terendam air laut.

MALUKU UTARA — Banjir rob yang melanda pesisir Sedati diperkirakan masih akan berlangsung hingga 19 Juni 2026. Kondisi terparah terjadi pada puncak pasang yang berlangsung hari ini, Jumat (13/6/2026). Lima desa yang terdampak adalah Desa Kalanganyar, Gisik Cemandi, Banjar Kemuning, Segoro Tambak, dan Tambak Cemandi.

Dampak Kerusakan Tambak Capai Ratusan Hektare

Dari total wilayah terdampak, sekitar 500 hektare tambak mengalami kerusakan parah. Tokoh masyarakat pesisir Sedati, Mashudi Fakih, menyebut kerugian akibat rob kali ini sangat besar.

"Kalau dihitung secara keseluruhan, luas wilayah yang terdampak lebih dari 2.000 hektare. Dari jumlah itu sekitar 500 hektare tambak mengalami kerusakan cukup parah akibat terjangan air laut," kata Mashudi kepada detikJatim, Jumat (13/6/2026).

Menurut Mashudi, kerugian tidak hanya berupa hasil budidaya yang hilang. Para petambak juga harus mengeluarkan biaya besar untuk memperbaiki tanggul dan galengan yang jebol.

"Kerugiannya tentu sangat besar, bisa mencapai miliaran rupiah. Sebab yang rusak bukan hanya tambaknya, tetapi juga infrastruktur pendukung pertambakan yang selama ini menjadi pelindung wilayah pesisir," ujarnya.

Tanggul Rusak dan Abrasi Perparah Genangan

Mashudi menjelaskan, kondisi pesisir Sedati saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Banyak tanggul dan galengan yang dulu menjadi pembatas antara daratan dan tambak kini rusak atau hilang akibat abrasi dan banjir rob yang terus berulang.

"Dulu masih jelas batas antara daratan dan tambak. Sekarang banyak yang sudah menyatu dengan genangan air laut. Bahkan beberapa lokasi yang sebelumnya bisa ditempuh lewat jalur darat, sekarang harus menggunakan perahu," ungkapnya.

Warga lainnya, Abdul Rokhim, menilai persoalan banjir rob tidak bisa hanya dilihat sebagai fenomena pasang air laut semata. Menurutnya, kerusakan kawasan pesisir yang terjadi bertahun-tahun turut memperparah dampak rob.

"Fungsi tanggul alami maupun galengan sebagai pelindung sudah banyak yang hilang. Ketika pasang laut tinggi, air dengan mudah masuk ke area tambak dan permukiman warga," kata Abdul Rokhim.

Awas Alih Fungsi Lahan Tambak Jadi Perumahan

Abdul juga menyoroti perubahan tata ruang di kawasan pesisir yang dinilai memperbesar risiko. Ia menyebut semakin banyak area tambak yang beralih fungsi menjadi kawasan perumahan.

"Alih fungsi lahan tambak menjadi perumahan harus dievaluasi. Kawasan pesisir memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Jika tidak dikendalikan, risiko banjir rob akan semakin besar di masa mendatang," tegasnya.

Abdul berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Rehabilitasi tanggul, penguatan galengan, hingga penyusunan kebijakan tata ruang yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir dinilai mendesak.

"Yang dibutuhkan warga sekarang bukan hanya penanganan saat rob datang, tetapi solusi jangka panjang agar tambak dan permukiman mereka tetap terlindungi," pungkasnya.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top