MALUKU UTARA — Dalam pernyataan yang dikutip dari Anadolu dan Al Arabiya, Trump menyebut skala kerugian manusia di medan perang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II. "Rusia kehilangan banyak sekali orang, begitu juga Ukraina. Bulan lalu, mereka kehilangan 35.000 tentara di antara keduanya. Ini secara bulanan. Rata-rata mereka kehilangan 25.000 orang, sebagian besar tentara, orang-orang muda. Sungguh gila apa yang terjadi di sana," ujar Trump.
Trump mengklaim telah menyelesaikan delapan perang selama kepemimpinannya. "Ini adalah perang yang menurut saya akan paling mudah diselesaikan," katanya. Ia mendesak Rusia dan Ukraina segera membuat kesepakatan damai. "Lihat, Rusia harus membuat kesepakatan. Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa," lanjut Trump.
Trump mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Minggu. "Saya berbicara dengan Presiden Putin pada Hari Minggu, kurang lebih sama. Mereka terus maju, terus berperang, kehilangan tentara. Mereka kehilangan begitu banyak tentara," ungkapnya.
Trump mengonfirmasi telah mengadakan pertemuan yang "sangat baik" dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela KTT G7 di Prancis. Pertemuan itu digelar pada Selasa pagi waktu setempat. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ukraina maupun Rusia mengenai isi pembicaraan dengan Trump.
Perang Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari 2022, saat Presiden Vladimir Putin meluncurkan operasi militer khusus yang disebutnya untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina. Konflik ini telah menewaskan puluhan ribu tentara dan warga sipil, serta memicu krisis pengungsi terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
Pernyataan Trump soal 35.000 tentara tewas per bulan menjadi sorotan karena lebih tinggi dari estimasi kebanyakan lembaga intelijen Barat. Sebelumnya, Pentagon memperkirakan total korban tewas dan luka di kedua pihak telah melampaui 500.000 orang sejak awal perang. Namun, baik Rusia maupun Ukraina jarang merilis angka resmi korban militer mereka.
Trump, yang dikenal dengan pendekatan transaksional dalam diplomasi, belum merinci langkah konkret yang akan ia ambil untuk mengakhiri perang. Ia juga tidak menyebutkan apakah akan melibatkan sekutu NATO atau menekan Ukraina untuk melakukan konsesi teritorial.