MALUKU UTARA — Seorang pengendara motor yang vakum delapan tahun karena cedera tangan kiri parah akhirnya bisa kembali merasakan sensasi berkendara. Dalam laporan eksklusif dari The Drive, jurnalis Andrew P. Collins mengaku teknologi kopling semi-otomatis ini bukan sekadar fitur kemudahan. Ia menyebutnya sebagai terobosan yang mengubah hidup.
Collins mengalami kecelakaan saat membalikkan UTV di alam liar. Tangan kirinya terjepit di antara tanah dan roll cage kendaraan, mengakibatkan kehilangan jari kelingking dan keterbatasan permanen pada kekuatan serta kelincahan tangannya. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum ia dijadwalkan menikah. Ia tetap melangsungkan pernikahan di lorong rumah sakit, beberapa menit sebelum masuk ruang operasi.
Motor kesayangannya, Yamaha WR250R, akhirnya terpaksa dijual. Ia tak mampu lagi menarik tuas kopling. Delapan tahun berlalu, ia mengira petualangan di atas dua roda sudah berakhir untuk selamanya.
Berbeda dengan kopling ganda (DCT) yang sepenuhnya otomatis, E-Clutch mempertahankan tuas kopling fisik dan mekanisme perpindahan gigi manual. Sistem ini bisa diatur dalam mode otomatis sehingga pengendara tidak perlu menyentuh tuas kiri sama sekali, bahkan saat berhenti total. Jika pengendara ingin merasakan kontrol manual penuh, tuas kopling tetap berfungsi seperti motor biasa dan sistem E-Clutch bisa dimatikan melalui menu pengaturan.
Collins mengaku sangat skeptis pada awalnya. Namun, setelah 60 detik pertama mengendarai CB650R di jalan masuk rumahnya, keraguan itu sirna. "Saya lupa betapa kerennya mengendarai motor dibandingkan mengemudikan mobil," tulisnya. Ia menegaskan bahwa E-Clutch justru membuat pengalaman berkendara terasa lebih baik, bukan sekadar lebih mudah.
CB650R yang diuji adalah motor bergaya naked dengan mesin empat silinder segaris. Karakter mesinnya digambarkan halus, responsif, namun tidak agresif. Suspensinya tidak kaku, posisi duduk tegak dan nyaman, serta suara knalpot yang tidak mengganggu. "Motor ini cukup cepat untuk menghibur, tapi tidak mendorong Anda untuk berkendara berbahaya," jelas Collins. Ia membandingkannya dengan Miata atau Caterham di dunia mobil—seru, hidup, dan terasa menyatu dengan mesin.
Sayangnya, satu hal yang mengecewakan adalah panel instrumen. Layar persegi panjang besar dinilai kurang keren dan tidak sesuai dengan karakter motor yang sporty. "Tachometer analog akan sangat membantu tampilan dan nuansa motor ini," tambahnya.
Honda CB650R E-Clutch dibanderol USD 9.299 (sekitar Rp 148,7 juta) di Amerika Serikat, sudah termasuk biaya pengiriman. Harga ini berada di tengah-tengah jajaran Honda. Sebagai perbandingan, Kawasaki Z650 S lebih murah sekitar USD 7.700, sementara Yamaha MT-07 dan Suzuki GSX-8S menjadi pesaing utama di kelas yang sama. Keunggulan utama Honda adalah mesin empat silinder yang lebih halus dan, tentu saja, teknologi E-Clutch yang tidak dimiliki kompetitor.
Collins menyimpulkan bahwa E-Clutch adalah katalisator yang sempurna untuk menarik lebih banyak orang ke dunia motor. Di tengah semakin sulitnya menemukan mobil yang terasa hidup, motor seperti CB650R dengan teknologi ini adalah jawaban bagi para pecinta mesin yang haus akan pengalaman berkendara murni.