Di peta wisata Indonesia timur, Maluku Utara seringkali terlewat. Padahal, provinsi kepulauan ini punya kekayaan yang tak kalah dari tetangganya, Maluku atau Papua. Bukan hanya bentang alam vulkanik yang dramatis, tapi juga desa-desa wisata yang hidup dengan tradisi dan keramahan warganya. Saya sendiri, saat pertama kali menginjakkan kaki di Ternate, langsung paham kenapa daerah ini disebut "Spice Islands" – aroma cengkeh dan pala seolah menempel di setiap sudut.
Daripada hanya duduk di pantai, cobalah masuk lebih dalam. Kunjungi desa-desa ini. Di sana, Anda bukan cuma melihat pemandangan, tapi merasakan denyut kehidupan asli Maluku Utara. Berikut tujuh di antaranya yang patut masuk daftar perjalanan Anda.
Desa Tolire berada di lereng Gunung Gamalama, Ternate. Daya tarik utamanya adalah Danau Tolire yang berada tepat di bibir kawah. Airnya hijau toska, dan menurut cerita warga, danau ini tak pernah surut meski musim kemarau.
Jalan menuju desa cukup menanjak, tapi pemandangan dari atas sangat sepadan. Anda bisa melihat garis pantai Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya. Waktu terbaik berkunjung pagi hari sebelum kabut turun. Tidak ada tiket masuk resmi, cukup koordinasi dengan ketua RT setempat untuk izin.
Desa Bale terletak di Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan. Aksesnya memang tidak mudah – harus naik kapal dari pelabuhan utama. Tapi begitu sampai, Anda akan disambut pasir putih sehalus tepung dan air laut yang tenang.
Keunikan desa ini adalah kehidupan bawah lautnya yang masih perawan. Snorkeling di sini seperti masuk akuarium raksasa. Saya bertemu dengan seorang nelayan lokal yang bercerita, mereka biasa menangkap ikan hanya dengan pancing, tanpa bom atau racun. Itulah kenapa terumbu karangnya masih utuh.
Labuha adalah ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan, tapi desa ini tetap mempertahankan nuansa tradisional. Benteng Portugis peninggalan abad ke-16 masih berdiri kokoh di sini, menyaksikan perjalanan rempah yang pernah mengguncang dunia.
Selain sejarah, Labuha punya Pantai Kokota yang airnya jernih. Di sore hari, anak-anak desa sering bermain bola voli di pasir. Suasana santai dan ramah. Jangan lupa mampir ke pasar tradisional untuk membeli cengkih atau pala kering – harganya jauh lebih murah daripada di kota.
Desa ini berada di pusat Kota Ternate, tapi tetap menyimpan atmosfer kerajaan. Di sini ada Kedaton Kesultanan Ternate yang masih berfungsi sebagai museum. Anda bisa melihat mahkota, pedang, dan peralatan kerajaan yang usianya ratusan tahun.
Uniknya, warga desa masih menjalankan tradisi "Kololi Kie" – ritual keliling gunung untuk meminta keselamatan. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan prosesi ini. Jangan lupa mencoba "Gohu Ikan", hidangan ikan mentah segar khas Ternate yang dibumbui jeruk dan cabai.
Desa Fitu di Halmahera Barat adalah desa adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Rumah-rumah panggung beratap rumbia berjejer rapi. Warga di sini mayoritas petani cengkih dan pala.
Saat saya berkunjung, seorang tetua desa bercerita tentang ritual "Sasi" – larangan mengambil hasil alam di waktu tertentu untuk menjaga kelestarian. Praktik ini sudah berlangsung turun-temurun. Anda bisa menginap di homestay warga dan belajar membuat minyak pala tradisional.
Gurabati di Pulau Tidore terkenal dengan makam Sultan Tidore dan Masjid Tua yang usianya lebih dari 400 tahun. Arsitektur masjidnya unik, perpaduan gaya Islam dan lokal.
Dari desa ini, Anda bisa melihat Pulau Maitara dan Pulau Tidore dari kejauhan. Spot favorit untuk foto adalah di dermaga kayu saat matahari terbenam. Warga sangat ramah, sering mengajak pengunjung ngopi di teras rumah mereka.
Desa Loleo di Ternate adalah desa nelayan tradisional. Setiap pagi, perahu-perahu kayu berjejer di bibir pantai, siap melaut. Ikan cakalang dan tuna segar langsung dijual di pasar ikan yang tak jauh dari desa.
Yang menarik, warga Loleo masih menggunakan perahu "Bodi" – perahu tradisional tanpa mesin untuk menangkap ikan di dekat pantai. Ini adalah kearifan lokal yang jarang ditemukan di tempat lain. Anda bisa menyewa perahu untuk memancing bersama nelayan.
Bagaimana cara mencapai desa-desa ini dari kota besar?
Sebagian besar desa bisa dicapai dari Ternate atau Sofifi dengan transportasi darat dan laut. Untuk desa di Halmahera Selatan, Anda perlu naik kapal feri dari Ternate.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke Maluku Utara?
Mei hingga Oktober adalah musim kemarau. Cuaca lebih bersahabat untuk aktivitas luar ruangan. Hindari Desember-Februari karena sering hujan dan gelombang tinggi.
Apakah ada penginapan di desa-desa ini?
Beberapa desa punya homestay sederhana milik warga. Untuk kenyamanan, Anda bisa menginap di kota terdekat dan melakukan perjalanan harian.
Apa oleh-oleh khas yang bisa dibeli?
Cengkih, pala, minyak kayu putih, dan kain tenun khas Tidore. Harganya bervariasi, tawar-menawar adalah hal wajar.
Apakah aman bepergian sendiri ke desa-desa ini?
Maluku Utara relatif aman. Warga sangat ramah terhadap pengunjung. Namun, tetap jaga barang berharga dan hormati adat setempat.
Desa-desa wisata di Maluku Utara bukan sekadar destinasi. Mereka adalah jendela untuk melihat bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan selama ratusan tahun. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar foto Instagram, tempat-tempat ini layak dikunjungi. Rencanakan perjalanan Anda, dan siapkan diri untuk pulang dengan cerita yang tak terlupakan.