MALUKU UTARA — Data terbaru dari talkshow BYD bertajuk “Mobilitas Masa Depan Dimulai Hari Ini” di Makassar, Minggu (26/7/2026), mengungkapkan bahwa satu dari lima mobil baru yang terjual di Indonesia kini bertenaga listrik. Hariyadi Kaimuddin, CEO Haka Auto – dealer resmi BYD, menyebut angka itu naik lima persen dalam setahun.
“Tahun ini sekitar 20 persen penjualan mobil baru sudah merupakan kendaraan listrik. Tahun sebelumnya masih di bawah 15 persen. Pertumbuhannya benar-benar eksponensial,” ujar Hariyadi dalam sambutannya.
Menurut Hariyadi, peralihan ke EV tidak semata soal efisiensi individu. Ia menyoroti dampak makro: ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak bisa ditekan. “Kendaraan listrik menggunakan sumber energi yang kita miliki sendiri – air, angin, tenaga surya. Kalau mayoritas kendaraan sudah pakai listrik, dampak fluktuasi harga minyak global ke kita akan jauh lebih kecil,” jelasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa EV masih barang mahal. “Perkembangan teknologi membuat harganya semakin kompetitif dibanding mobil konvensional,” kata Hariyadi. Ditambah, pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) kini tidak lagi perlu didorong pemerintah – swasta mulai melihat bisnis ini menguntungkan.
“Tanpa harus didorong lagi, banyak perusahaan swasta yang melihat bisnis stasiun pengisian kendaraan listrik sebagai peluang yang menjanjikan. Pembangunan SPKLU akan terus bertambah,” ujar Hariyadi. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa adopsi EV tidak akan terhambat infrastruktur.
Di sisi distribusi, Haka Auto telah memperluas jaringan layanan ke berbagai wilayah dalam dua tahun terakhir. “Alhamdulillah, hingga saat ini jaringan kami sudah tersebar dan akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan listrik,” pungkasnya.
Data 20% ini menegaskan bahwa EV bukan lagi produk pinggiran. Dengan harga yang kian setara, biaya operasional lebih rendah, dan SPKLU yang terus menjamur, pilihan untuk beralih ke mobil listrik kini lebih rasional. Apalagi, kontribusinya terhadap ketahanan energi nasional menjadi nilai tambah kolektif.
Hariyadi menutup dengan optimisme bahwa tren ini akan terus berlanjut, didukung oleh kesadaran masyarakat dan infrastruktur yang semakin matang. “Masa depan mobilitas Indonesia sesungguhnya telah dimulai saat ini,” katanya.