TERNATE — Penggunaan pembayaran digital di Maluku Utara tak lagi sekadar tren perkotaan. Bank Indonesia (BI) mencatat sebanyak 120.763 orang telah bertransaksi menggunakan QRIS sepanjang Januari–Juni 2026. Angka ini naik signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, menandakan kebiasaan masyarakat bertransaksi nontunai semakin mengakar.
Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila, menyebut pertumbuhan pengguna ini menjadi indikator positif, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi menambah jumlah pengguna, melainkan memastikan layanan QRIS benar-benar aktif digunakan, termasuk oleh para pedagang.
BI masih menemukan sejumlah merchant yang terdaftar namun tidak aktif bertransaksi. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena memperlambat optimalisasi ekosistem digital di daerah.
“Masih ada sedikit permasalahan dari beberapa merchant yang dorman. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa kami harus terus meningkatkan literasi dan pemahaman kepada pelaku usaha maupun masyarakat agar penggunaan QRIS semakin optimal,” ujar Handi saat media briefing peluncuran SIAP QRIS di kawasan Pantai Sulamadaha, Kota Ternate, Rabu (12/8).
Menurut Handi, edukasi menjadi kunci utama. BI tidak hanya mendorong pedagang untuk memasang QRIS, tetapi juga membiasakan mereka menggunakannya dalam transaksi sehari-hari agar tidak sekadar pajangan di meja kasir.
Karakteristik Maluku Utara yang terdiri atas ribuan pulau membuat mobilitas masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut. BI menilai sektor ini memiliki potensi besar untuk memperluas transaksi nontunai hingga ke titik-titik terpencil.
“Nature Maluku Utara adalah wilayah kepulauan, sehingga mobilitas masyarakat menggunakan transportasi laut sangat tinggi,” kata Handi.
BI saat ini tengah menjajaki penerapan QRIS untuk pembayaran layanan penyeberangan antarpulau. Rencana ini dinilai strategis karena menyentuh langsung kebutuhan pokok mobilitas warga. Jika terealisasi, penumpang kapal nantinya bisa membayar tiket cukup dengan memindai kode QR.
Perluasan QRIS tidak berhenti di pelabuhan. BI Maluku Utara juga tengah menguji coba penerapan pembayaran digital pada layanan taksi bandara. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem dari sektor perdagangan dan UMKM menuju layanan transportasi publik.
“Tim kami juga sudah melakukan penjajakan untuk taksi bandara. Ke depan implementasi QRIS akan terus kami perluas agar semakin memudahkan masyarakat dalam bertransaksi,” ujar Handi.
BI sebelumnya telah menerapkan sistem serupa pada moda transportasi lain di sejumlah daerah, seperti becak dan andong. Pengalaman tersebut menjadi referensi untuk mengukur kemungkinan penerapan di Maluku Utara.
Dengan jumlah pengguna yang menembus 120.763 orang, BI melihat ruang pengembangan QRIS di Maluku Utara masih sangat terbuka. Fokus ke depan bukan hanya pada penambahan jumlah pengguna, tetapi juga memastikan teknologi ini benar-benar terintegrasi dalam aktivitas harian masyarakat, dari belanja di pasar hingga naik kapal antar pulau.