Bupati Morotai Sambut Riset BRIN dan Unkhair, Cerita Rakyat Putri Dehegila Bakal Jadi Basis Ekonomi Kreatif

Penulis: Boyke Sihombing  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:19:01 WIB
Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua menyambut tim periset BRIN dan FIB Unkhair dalam pertemuan pembahasan riset cerita rakyat Putri Dehegila di Daruba, Rabu (19/8/2026).

DARUBA — Tim periset BRIN dan FIB Unkhair memaparkan hasil sementara riset serta rencana pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis kebudayaan lokal dalam pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Rabu (19/8/2026). Tujuh periset hadir dalam forum itu, dipimpin Dessy Wahyuni selaku ketua tim, bersama Sriyono, Drajat Agus Murdowo, M. Syarif Hidayat, Ricky A. Manik, Muawal Panji Handoko, dan Hudan Irsyad.

Fokus utama kajian adalah Legenda Putri Dehegila dan kemungkinan menjadikan cerita rakyat sebagai basis narasi produk serta identitas budaya Morotai. Gagasan ini dinilai mampu memberi nilai tambah pada berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari destinasi wisata, seni, kuliner, hingga kerajinan.

Morotai Tak Hanya Punya Sejarah Perang Dunia II

Bupati Morotai Rusli Sibua mengakui identitas daerahnya selama ini melekat kuat dengan sejarah Perang Dunia II, terutama keberadaan Jenderal Douglas MacArthur dan situs-situs peninggalan perang. Padahal, menurut dia, kekayaan budaya dan cerita rakyat lokal juga layak diangkat menjadi sumber identitas.

“Morotai tidak hanya memiliki sejarah Perang Dunia II. Ada kebudayaan, cerita rakyat, dan pengetahuan lokal yang juga perlu diangkat,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.

Cerita Burung Tohoko hingga Kelapa Bido Belum Terdokumentasi

Sekretaris Daerah Morotai Muhammad Umar Ali menyebut masih banyak cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat tetapi belum terdokumentasikan secara serius. Selain Legenda Putri Dehegila, ada cerita Burung Tohoko dan kisah pemindahan pulau dari wilayah utara ke selatan Morotai.

“Cerita rakyat bukan hanya untuk diceritakan, tetapi dapat menjadi identitas yang memberi makna pada produk Morotai,” paparnya.

Pembahasan juga mengerucut pada potensi Kelapa Bido, komoditas unggulan lokal. Nama Bido diambil dari sebuah tempat di Morotai yang dalam cerita masyarakat berkaitan dengan penemuan kelapa terapung di laut. Kelapa itu kemudian ditanam di Desa Bido dan berkembang menjadi varietas yang dikenal hingga sekarang.

Putri Dehegila dan Kapita Sopi untuk Kemasan Produk

Tim riset menilai komoditas lokal seperti Kelapa Bido bisa dikembangkan tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga melalui kekuatan narasi budaya. Cerita Putri Dehegila dan figur Kapita Sopi disebut dapat menjadi sumber inspirasi untuk penamaan, identitas visual, kemasan, hingga narasi pemasaran produk unggulan.

Pendekatan ini memungkinkan produk lokal tidak sekadar menjadi barang yang diperjualbelikan, tetapi juga membawa cerita mengenai asal-usul, nilai, dan identitas masyarakat Morotai. Pemerintah kabupaten berharap kunjungan dan penelitian lanjutan dapat difasilitasi secara lebih optimal.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top