MALUKU UTARA — Komandan Lanud Supadio, Marsekal Pertama TNI Sidik Setyono, mengungkapkan bahwa enam armada yang beroperasi di pangkalan utama digunakan untuk mendukung patroli udara dan pemadaman melalui teknik water bombing. Dua armada tambahan yang digeser ke Ketapang menyusul data sebaran titik api yang terkonsentrasi di wilayah tersebut.
"Sebanyak enam armada ditempatkan di Lanud Supadio untuk mendukung patroli udara dan water bombing, sedangkan dua armada lainnya digeser ke Kabupaten Ketapang yang memiliki jumlah hotspot cukup tinggi," kata Sidik di Sungai Raya, Sabtu.
Pemilihan Ketapang sebagai lokasi penguatan armada udara bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang diterima satgas, tiga kabupaten dengan akumulasi titik panas terbanyak saat ini adalah Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah. Konsentrasi hotspot yang tinggi membuat wilayah pesisir selatan Kalbar itu menjadi prioritas utama operasi pemadaman.
Selain patroli dan pemadaman, Lanud Supadio turut mendukung operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang hujan buatan di area yang membutuhkan. Sidik menyebutkan bahan semai untuk keperluan tersebut telah disiapkan dan disimpan di gudang, siap digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.
Teknik water bombing sendiri menurut Sidik merupakan langkah terakhir yang ditempuh, menyesuaikan dengan kondisi dan lokasi kebakaran. Pada Jumat, helikopter Sikorsky UH-60L diterjunkan untuk memadamkan api di Desa Mekar Sari, Kabupaten Kubu Raya.
Upaya pengerahan satgas darat dan udara mulai menunjukkan hasil. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, memaparkan data BMKG yang menunjukkan penurunan drastis jumlah hotspot kategori tinggi di 12 kabupaten/kota. Pada 19 Agustus tercatat 521 titik, turun menjadi 224 titik pada 20 Agustus, dan kembali turun signifikan menjadi 32 titik pada 21 Agustus.
"Tentunya penurunan hotspot ini akan menjadi target kami dalam penanganan karhutla dengan memasifkan keterlibatan satgas darat dan udara," ujar Ridwan.
Ridwan menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari intensitas operasi yang dilakukan secara paralel. BPBD Kalbar membagi operasi penanganan ke dalam dua satgas, yaitu satgas darat dan satgas udara. Satgas darat berkolaborasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Satpol PP untuk menentukan titik lokasi pemadaman dan pembasahan lahan.
Dengan masih adanya potensi kebakaran di sejumlah wilayah, koordinasi antara operasi udara dan darat akan terus diperkuat hingga kondisi cuaca benar-benar mendukung dan seluruh titik panas berhasil dipadamkan.