Rakernas JKPI XII di Ternate Resmi Dimulai, Wali Kota Tauhid Tegaskan Kota Rempah Harus Jadi Aksi Nyata

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:11:31 WIB
Rakernas JKPI XII resmi dibuka dengan Opening Ceremony Pasar Malam Indonesia, Pentas Budaya, dan Festival Gastronomi di Benteng Oranje, Ternate, hingga 30 Agustus 2026.

TERNATE — Pembukaan Rakernas XII JKPI ditandai dengan Opening Ceremony Pasar Malam Indonesia, Pentas Budaya, dan Festival Gastronomi yang digelar di Benteng Oranje, Ternate. Kegiatan yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026 ini mempertemukan kepala daerah, pengurus JKPI, delegasi kota pusaka, serta pegiat kebudayaan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Tauhid menegaskan, branding "Ternate Kota Rempah" merupakan seruan untuk gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, budayawan, komunitas, dan masyarakat. Menurutnya, identitas ini memadukan kebanggaan sejarah dengan inovasi ekonomi dan tata kelola yang bersih.

"City Branding Ternate Kota Rempah adalah sebuah seruan untuk aksi kolektif. Ia memadukan kebanggaan pada sejarah, kecerdasan dalam berinovasi ekonomi dan perdagangan, serta ketegasan dalam menegakkan tata kelola yang bersih dan merakyat," ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Jejak Rempah yang Menjadi Senjata Politik Global

Tauhid menjelaskan, cengkeh dan pala dari Maluku pernah menjadi komoditas bernilai tinggi yang menarik berbagai kekuatan dunia, mulai dari Arab, Persia, Tiongkok, hingga Portugis, Spanyol, Inggris, dan VOC Belanda. Ia menyebut rempah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga alat politik yang membawa bangsa-bangsa asing ke perairan Nusantara.

"Selamat datang di negeri asal rempah. Di negeri ini kami menyatu dalam semangat Marimoi Ngone Futuru, bersatu kita teguh, dalam bingkai Moloku Kie Raha," kata Tauhid menyambut para delegasi.

Kebudayaan sebagai Jalan Keluar Persoalan Daerah

Dalam sambutannya, Tauhid turut menyoroti tantangan pembangunan seperti ketimpangan ekonomi, keadilan sosial, dan kualitas pelayanan publik. Ia menilai penguatan identitas budaya lokal dan kearifan lokal menjadi pendekatan penting untuk menjawab persoalan tersebut.

"Jika politik global masa lalu menciptakan hierarki, kini politik lokal kita harus memastikan kesetaraan dan responsivitas," tegasnya. Ia mengingatkan bahwa perpecahan internal kerap menjadi celah yang dimanfaatkan kekuatan asing, sehingga penguatan kelembagaan sosial dan nilai budaya menjadi krusial.

Momentum Ternate dalam Jejaring Kota Pusaka

Tauhid berharap Rakernas XII tidak berhenti pada agenda seremonial. Ia mendorong agar forum ini menghasilkan dampak nyata bagi pelestarian cagar budaya dan pengembangan ekonomi berbasis kebudayaan di masing-masing daerah.

"Semoga Rakernas ke-XII bukanlah kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kebudayaan daerah sekaligus menjadi lokomotif yang menggerakkan agenda-agenda pemajuan kebudayaan dan pelestarian cagar budaya di setiap daerah kita masing-masing," ujarnya.

Salah satu rangkaian yang disorot adalah Lawatan Nusantara, program yang mengangkat tradisi maritim sebagai pusaka bersama. Program ini diharapkan memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir dan kepulauan sekaligus mendorong ekosistem kelautan dan kebudayaan.

Melalui penyelenggaraan Rakernas ini, Ternate diharapkan semakin kokoh posisinya dalam jejaring kota pusaka Indonesia. "Dalam perspektif jejaring kota pusaka dalam rumah bersama JKPI, melalui Rakernas JKPI ke-XII di Ternate akan kembali mengukir peran sebagai aktor perubahan bagi peradaban yang bernilai budaya, berdaulat dan berkeadilan," pungkas Tauhid.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: halmaherapost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top