TERNATE — Benteng Oranje tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Maluku Utara, tetapi kini bertransformasi menjadi panggung kolaborasi antar pemerintah daerah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang digelar di kawasan cagar budaya tersebut resmi dibuka, ditandai dengan kehadiran puluhan kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Ketua Panitia Rakernas XII JKPI, Rizal Marsaoly, mengungkapkan bahwa pemilihan Benteng Oranje sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan. Benteng peninggalan kolonial ini dinilai memiliki nilai historis yang kuat dan menjadi representasi kekayaan budaya Ternate.
Rizal menekankan bahwa pemanfaatan kawasan pusaka seperti Benteng Oranje tidak boleh berhenti pada sektor pariwisata semata. Menurutnya, ada tiga elemen penting yang coba dihadirkan dalam gelaran ini, yakni ruang, komunitas, dan kreativitas.
"Di sini ada tiga elemen yang penting. Ada ruang, komunitas dan kreativitas," kata Rizal usai pembukaan Rakernas JKPI.
Ia menjelaskan, ruang bersejarah tersebut dapat dipadukan dengan aktivitas komunitas dan kreativitas generasi muda. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadikan kawasan pusaka sebagai ruang produktif bagi masyarakat, bukan sekadar tempat mengenang masa lalu.
"Bagaimana ruang yang tercipta ini, ide yang ada, kemudian kreativitas yang dilahirkan oleh teman-teman generasi muda menjadi suatu wadah untuk kolaborasi dan sinergi," ujarnya.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari ini diprediksi memberikan efek berganda bagi perekonomian warga Ternate. Sektor kuliner, transportasi, hingga produk ekonomi kreatif dipastikan akan kebanjiran pesanan dari para tamu daerah.
"Akan berdampak ekonomi bagi masyarakat. UMKM tumbuh," tegas Rizal.
Dari total 79 kepala daerah yang tergabung dalam keanggotaan JKPI, sekitar 40 kepala daerah telah terkonfirmasi hadir. Sementara itu, sebagian besar peserta lainnya dijadwalkan tiba dan mengikuti rangkaian kegiatan pada hari berikutnya, dengan jumlah keseluruhan peserta diperkirakan mencapai sekitar seribu orang.
Rakernas XII ini menjadi ajang bagi para pemangku kebijakan untuk saling bertukar pengalaman dalam mengelola kawasan pusaka. Rizal menambahkan, semangat keanggotaan JKPI adalah menggagas langkah bersama untuk masa depan pelestarian budaya di era modern.
"Paling tidak, semangat keanggotaan JKPI ini bertemu dalam Rakernas JKPI, bisa sama-sama menggagas apa yang harus dilakukan JKPI ke depan," katanya.
"JKPI sendiri untuk bagaimana melestarikan kebudayaan, bagaimana cerita tentang budaya-budaya di sekitar daerah itu punya value, punya nilai di era yang ada sekarang," jelasnya.
Dalam pembukaan Rakernas, turut hadir perwakilan Kedutaan Besar Belanda dan sejumlah pihak yang berkaitan dengan kebudayaan. Kehadiran para delegasi tersebut semakin memperkuat nuansa sejarah dan budaya yang menjadi bagian utama dari rangkaian Rakernas JKPI di Ternate.
Dengan terselenggaranya acara ini, Kota Ternate tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan kepala daerah anggota JKPI, tetapi juga mendapat kesempatan memperkenalkan potensi sejarah, budaya, kuliner, dan UMKM lokal kepada ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.