TERNATE — Kabar baik bagi warga Maluku Utara yang selama ini harus dirujuk keluar daerah untuk menangani penyakit jantung. RSUD dr. H. Chasan Boesoirie kini resmi memiliki Gedung Pelayanan Jantung Terpadu yang diresmikan langsung oleh Gubernur Sherly Tjoanda pada Jumat (28/8/2026).
Fasilitas anyar ini bukan sekadar gedung baru. Di dalamnya terpasang Cath Lab yang memungkinkan tindakan diagnostik dan intervensi non-bedah (INB) dilakukan di Ternate. Sebelumnya, pasien dengan kondisi jantung kritis harus menempuh perjalanan laut atau udara jauh untuk mendapatkan penanganan serupa.
Kebutuhan akan layanan ini sudah sangat mendesak. Data internal RSUD Chasan Boesoirie mencatat tren peningkatan signifikan kasus penyakit jantung sepanjang 2020 hingga 2025.
Jumlah pasien rawat jalan melonjak dari 439 menjadi 820 kasus. Sementara itu, pasien rawat inap ikut naik dari 291 menjadi 580 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Maluku Utara selama ini kesulitan mengakses pengobatan jantung secara tepat waktu.
Gubernur Sherly Tjoanda menegaskan bahwa infrastruktur saja tidak cukup. Ia menyoroti urgensi waktu dalam penanganan penyakit jantung, di mana keterlambatan sedikit saja bisa berdampak fatal pada kondisi pasien.
"Ini tentang kecepatan. Keterlambatan sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Negara hadir memastikan pelayanan merata, sehingga pasien darurat dapat tertangani dengan tepat di daerahnya sendiri," ujar Sherly dalam sambutannya.
Peresmian gedung ini bertepatan dengan pelaksanaan Proctorship Intervensi Non-Bedah (INB) perdana di Maluku Utara. Kegiatan ini menjadi ajang transfer ilmu bagi dokter-dokter muda setempat yang didampingi langsung oleh tim ahli dari rumah sakit pusat.
RSUD Chasan Boesoirie tidak berjalan sendiri. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Multipartit Jejaring Pengampuan Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah telah dilakukan dengan melibatkan tiga rumah sakit rujukan nasional. RS Jantung Harapan Kita bertindak sebagai koordinator, RSUD Dr. Soetomo membidangi pengampuan bedah jantung, dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk pengampuan intervensi non-bedah.
Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Rosita Alkatiri, M.Kes, menyebut pengembangan fasilitas ini adalah jawaban atas tantangan geografis Maluku Utara yang berupa kepulauan. Ia menegaskan bahwa pengembangan gedung harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
"Kebutuhan masyarakat terus tumbuh. Pengembangan fasilitas harus dibarengi peningkatan kompetensi SDM, teknologi, dan jejaring rujukan yang kuat," jelas Rosita.
Gubernur Sherly pun mengapresiasi transformasi pelayanan di rumah sakit daerah itu, yang dinilainya kian responsif. Ia berharap program pembinaan dari rumah sakit pusat dapat berjalan terstruktur.
"Rumah sakit bukan hanya soal gedung, tapi kapasitas. Saya berharap PKS ini menjadi awal pembinaan terstruktur bagi dokter muda di Maluku Utara agar kompetensi mereka terus meningkat," tambah Sherly.
Usai seremoni, Gubernur bersama Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Duta Besar Kerajaan Belanda, serta tim ahli nasional melakukan inspeksi langsung ke ruang operasi dan area kateterisasi. Langkah ini untuk memastikan sterilitas serta kesiapan seluruh sarana sebelum gedung benar-benar difungsikan melayani pasien.
Dengan beroperasinya layanan ini, warga Maluku Utara tidak perlu lagi menunggu lama atau terbang jauh untuk mendapatkan tindakan kateterisasi jantung. Pengembangan layanan bedah jantung terbuka juga direncanakan berjalan secara bertahap dengan dukungan jejaring pengampuan nasional hingga tahun 2031.