MALUKU UTARA — Militer Amerika Serikat menembak jatuh tiga drone yang diduga digunakan kartel narkoba Meksiko untuk memata-matai pergerakan petugas hukum di perbatasan selatan. Insiden ini terjadi antara Selasa malam hingga Rabu pagi waktu setempat, dikonfirmasi melalui pernyataan resmi Komando Utara AS (USNORTHCOM) kepada CBS News.
Ketiga pesawat nirawak tersebut dihancurkan menggunakan sistem Army Multipurpose High Energy Laser System yang dioperasikan Satuan Tugas Gabungan (Joint Task Force) di perbatasan. Ini bukan kali pertama senjata laser digunakan untuk melindungi wilayah udara AS, namun menjadi sorotan karena targetnya adalah drone yang diduga bagian dari operasi kartel.
Mayjen Curtis Taylor, komandan Satuan Tugas Gabungan perbatasan selatan, menyatakan bahwa jaringan kartel semakin sering memanfaatkan sistem pesawat nirawak untuk dua tujuan utama: melancarkan penyelundupan manusia dan memata-matai pergerakan personel militer serta mitra penegak hukum.
"Jaringan kartel semakin banyak menggunakan sistem pesawat nirawak untuk memfasilitasi penyelundupan manusia secara ilegal dan secara aktif memata-matai personel serta mitra penegak hukum kami," ujar Taylor dalam pernyataan resminya.
"Dengan mengintegrasikan penanggulangan berlapis bersama kemampuan energi terarah canggih seperti sistem laser ini, kami tegaskan tidak akan menoleransi pengawasan yang bermusuhan," tambahnya.
Penggunaan senjata laser untuk pertahanan udara sebenarnya sudah diuji sejak awal tahun ini. Pada Februari, Pentagon memakai sistem serupa untuk menembak jatuh target udara tak dikenal, yang kemudian menyebabkan penutupan darurat sebuah bandara besar. Setelah investigasi, target tersebut diketahui hanya balon pesta.
Beberapa pekan kemudian, insiden serupa terjadi lagi dan berhasil menembak jatuh drone. Namun, drone tersebut ternyata milik unit Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (Customs and Border Protection), bukan drone musuh yang dioperasikan kartel.
Militer menolak merilis detail lebih lanjut terkait penembakan drone terbaru dengan alasan keamanan operasional dan operasi yang masih berjalan.
Meski biaya pengadaan sistem laser tergolong mahal, biaya operasionalnya jauh lebih hemat dibandingkan sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) tradisional. Setiap satu kali tembakan laser diperkirakan hanya menghabiskan biaya sekitar US$ 13 (sekitar Rp 214 ribu), sementara rudal konvensional bisa memakan biaya ribuan hingga jutaan dolar per unit.
Efisiensi biaya ini membuat sistem laser semakin relevan untuk menghadapi ancaman drone, yang penggunaannya di medan perang semakin menonjol. Ukraina menjadi contoh nyata pemanfaatan drone secara efektif saat bertahan melawan militer Rusia yang jauh lebih besar.
AS bukan satu-satunya negara yang mengembangkan teknologi ini. Inggris baru-baru ini mengumumkan rencana pemasangan senjata laser DragonFire pada kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan pada 2027. Sementara itu, China dikabarkan telah mengembangkan sistem laser anti-drone portabel seukuran ransel yang mampu menjangkau target hingga jarak 1.600 kaki (sekitar 488 meter).
Bagi konsumen sipil, teknologi serupa juga tersedia dalam skala kecil. Sistem pertahanan laser rumahan dapat dibeli dengan harga sekitar US$ 1.000 (sekitar Rp 16,5 juta) untuk melindungi rumah dari serangga terbang, meski tentu dengan kemampuan yang jauh berbeda dari versi militer.