TERNATE — Sejarah dan budaya Ternate yang kaya tidak lagi dipandang sekadar peninggalan masa lalu. Dalam forum arsitektur internasional yang digelar di Ruang Video Conference Fakultas Hukum Unkhair, Minggu (30/8/2026), warisan tersebut justru diangkat sebagai bahan pembelajaran utama bagi calon arsitek dalam merancang kota masa depan.
Mengusung tema "Heritage, Sustainable Tourism, and the Future of Architectural Education", forum ini menghadirkan tiga pembicara dari Indonesia, Malaysia, dan China. Mereka adalah Rosli Nor dari ICOMOS Malaysia, Prof. Ping-Hsiang Hsu, Ph.D dari Hubei University of Economics, China, serta Assoc. Prof. Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, IPM., IAI yang juga Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI).
Dekan Fakultas Teknik Unkhair, Ar. Ir. Endah Harisun, S.T., M.T., IPM., IAI., ASEAN Eng, menegaskan bahwa kekayaan sejarah Ternate memiliki nilai strategis bagi pendidikan arsitektur. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bagaimana desain dapat menjawab tantangan pelestarian kawasan bersejarah sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.
"Forum ini membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperluas perspektif melalui pengalaman akademisi dan praktisi internasional dalam melestarikan kawasan bersejarah serta membangun masa depan yang berkelanjutan," ujarnya.
Forum yang diinisiasi Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Unkhair ini mengulas sejumlah persoalan penting. Beberapa di antaranya menjadi perhatian utama para peserta:
Endah menilai pendidikan arsitektur tidak bisa berjalan statis. Pelestarian warisan budaya dan pembangunan berkelanjutan, kata dia, perlu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di kampus.
Kehadiran narasumber internasional diharapkan memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa dan dosen mengenai praktik pelestarian kota pusaka di negara lain. Forum ini juga menjadi ajang memperkuat jejaring akademik Program Studi Arsitektur Unkhair dengan institusi pendidikan arsitektur di dalam maupun luar negeri.
Melalui forum ini, Unkhair berharap dapat membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas, sekaligus memposisikan Ternate sebagai salah satu kota pusaka yang diperhitungkan dalam diskusi arsitektur global.