MALUKU UTARA — Level tersebut menjadi titik terendah rupiah sepanjang sejarah. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,74%, diikuti baht Thailand 0,18%, dolar Singapura 0,09%, dan yen Jepang 0,08%. Rupee India dan yuan China juga ikut tertekan meski tipis.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, meredanya kekhawatiran pasar global setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran menjadi salah satu sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Namun, pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah.
"Kurs rupiah masih berpotensi menguat meski terbatas," ujar Lukman dalam keterangannya, Selasa (19/5). Menurut dia, investor saat ini tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan.
Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi faktor utama yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Langkah tersebut dinilai perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang terus menguat.
Lukman memperkirakan, rupiah akan bergerak dalam rentang 17.600 hingga 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar, terutama importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar.
Bagi investor, pelemahan rupiah meningkatkan risiko kerugian selisih kurs pada portofolio yang berbasis dolar AS. Sementara itu, pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Pasar kini menunggu keputusan BI dalam RDG yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Kenaikan suku bunga acuan diharapkan mampu memberikan daya tarik bagi aliran modal asing dan menahan laju pelemahan rupiah lebih lanjut.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, seiring dengan penguatan dolar AS secara global. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan kebijakan moneter domestik dan dinamika geopolitik global yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar.