Rupiah Dekati Rp17.900 per Dolar AS Pagi Ini, Analis Sebut Tertekan Konflik AS-Iran

Penulis: Dedi Supriadi  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 10:01:02 WIB
Rupiah melemah ke level Rp17.855 per dolar AS pada pagi ini.

JAKARTA — Pelemahan rupiah pagi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Indonesia tercatat turun 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Level Rp17.855 per dolar AS ini menjadi yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut sentimen geopolitik menjadi pemicu utama. "Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Pelemahan Merata di Asia dan Eropa

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mata uang di kawasan Asia mayoritas terkoreksi terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, dan yuan China terkoreksi 0,05 persen. Yen Jepang dan peso Filipina masing-masing turun 0,04 persen dan 0,18 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,03 persen.

Di negara maju, euro Eropa turun 0,13 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,19 persen. Dolar Australia menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 0,29 persen, disusul franc Swiss yang turun 0,20 persen dan dolar Kanada melemah 0,10 persen.

Rentang Pergerakan Rupiah Hari Ini

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Level Rp17.900 menjadi batas atas yang krusial—jika tembus, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar dalam jangka pendek.

Konflik AS-Iran yang kembali memanas menambah ketidakpastian pasar keuangan global. Investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, yang otomatis menekan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Pasar kini menunggu perkembangan diplomasi dan potensi dampak terhadap harga energi global.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top