MALUKU UTARA — Dalam paparannya, Eko menjelaskan bahwa membangun PLTS bukan sekadar soal memasang panel surya. Ada tiga tantangan utama yang harus dihadapi sekaligus: ketersediaan lahan yang masif, investasi jaringan transmisi listrik, dan kemampuan industri dalam negeri memproduksi komponen.
"Kalau kita paksakan 75 GW, risiko kegagalan proyek dan pemborosan anggaran sangat besar. Lebih baik kita buktikan dulu mampu membangun 10 GW dengan baik," ujar Eko dalam diskusi energi di Jakarta, pekan ini.
Dampak ke PLN dan Anggaran Negara
Jika target awal diturunkan menjadi 10 GW, beban belanja modal (capex) PLN untuk membangun pembangkit dan infrastruktur pendukung bisa ditekan secara signifikan. Pasalnya, setiap 1 GW PLTS membutuhkan investasi rata-rata Rp 12 triliun hingga Rp 15 triliun.
Dengan skema 10 GW, total investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 120 triliun hingga Rp 150 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan dana untuk 75 GW yang bisa menembus Rp 1.000 triliun lebih.
Tekanan terhadap APBN pun bisa dikurangi. Pemerintah selama ini kerap mengandalkan penyertaan modal negara (PMN) ke PLN untuk mendanai proyek kelistrikan. Jika target dipangkas, PMN bisa difokuskan ke proyek yang lebih matang.
PLN Harus Siapkan Jaringan Transmisi
Eko juga menyoroti kesiapan jaringan listrik PLN. PLTS bersifat intermiten — hanya menghasilkan listrik saat matahari bersinar. Tanpa sistem penyimpanan baterai dan transmisi yang andal, kelebihan listrik di siang hari justru bisa mengganggu stabilitas sistem kelistrikan Jawa-Bali.
"PLN harus mulai membangun smart grid dan baterai skala besar. Ini bukan proyek yang bisa selesai dalam satu atau dua tahun," tambahnya.
Ia mendorong PLN dan Kementerian ESDM untuk membuat peta jalan (roadmap) bertahap: 10 GW di fase pertama selesai pada 2030, kemudian evaluasi sebelum melanjutkan ke fase berikutnya.
Langkah ini, menurut Eko, juga memberi waktu bagi industri manufaktur dalam negeri — termasuk anak usaha Pertamina dan PT Len Industri (Persero) — untuk meningkatkan kapasitas produksi panel surya dan inverter. Dengan begitu, target 100 GW bukan lagi sekadar wacana, melainkan bisa dicapai secara organik.